educationclipart003ha

PROFESIONALISME GURU

PROFESIONALISME GURU

A. Profesional dan Profesionalisme Guru
Istilah profesi ditinjau secara etimologis berasal dari kata “Proffesion” kata tersebut berakar dari bahasa latin “Profesus” yang berarti mampu atau ahli dalam suatu pekerjaan (Sanusi, 1991: 18). Sedangkan menurut Sutisna (1987:302) profesi adalah merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pendidikan tinggi dalam Liberal Art dan Science yang biasa meliputi pekerjaan mental yang ditunjang oleh kepribadian dan sikap profesional. Cogan (Djuariah, 2001: 56) mengemukakan bahwa: “profesi adalah suatu keterampilan yang didasarkan pada struktur teoritis tertentu dari beberapa bagian ilmu pengetahuan tersebut”.
Pribadi (Hamalik, 2002: 2) mengungkapkan bahwa: “profesi adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada jabatan atau suatu pekerjaan dalam arti biasa, karena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu”. Dari batasan-batasan tersebut dapat diasumsikan tidak semua pekerjaan disebut suatu profesi karena profesi itu suatu pekerjaan yang berlandaskan kepada konsep dan teori tertentu, sedangkan teori akan bisa didapat melalui pendidikan tinggi, hal ini senada dengan pendapat Ali (1989:35) bahwa profesi itu menuntut beberapa syarat sebagai berikut :
1. Menuntut adanya keterampilan yang berlandaskan pada konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam;
2. Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan keprofesiannya;
3. Menuntut adanya tingkat pendidikan tinggi;
4. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya;
5. Memungkinkan pengembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.

Untuk membedakan antara pekerjaan yang termasuk profesi dan bukan profesi, Sanusi (Sutjipto, 1999:17) mengemukakan ciri-ciri utama suatu profesi sebagai berikut :
1) Suatu jabatan yang mempunyai fungsi dan signifikasi sosial yang menentukan (Crucial);
2) Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian tertentu;
3) Keterampilan/keahlian itu didapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah;
4) Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistematis dan eksplisit.
5) Memerlukan tingkat pendidikan perguruan tinggi dalam waktu yang lama;
6) Jabatan itu merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional;
7) Berpegang teguh kepada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi;
8) Mempunyai kebebasan dalam memberikan Judgement terhadap permasalahan profesi yang dihadapinya;
9) Dalam prakteknya melayani masyarakat, anggota profesi ekonomi dan bebas dari campur tangan orang luar;
10) Mempunyai prestise atau pengakuan yang tinggi dalam masyarakat dan memperoleh imbalan.

Adapun jabatan guru adalah suatu profesi, karena jabatan tersebut memiliki ciri dan karakteristik sebagaiman tersebut diatas dan lebih jelasnya sebagaimana dikemukakan oleh National Education Association (Sutjipto, 1999:18) sebagai berikut :
1. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual;
2. Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus;
3. Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama;
4. Jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang bersinambungan;
5. Jabatan yang menjanjikan karier hidup;
6. Jabatan yang menentukan standarnya sendiri;
7. Jabatan yang lebih mementingkan layanan diatas keuntungan sendiri;
8. Jabatan yang mempunyai organisasi profesi yang kuat dan terjalin erat.

Dari ungkapan diatas dapat diasumsikan bahwa ciri pokok profesi itu adalah : pertama Pekerjaan yang dipersiapkan melalui proses pendidikan, kedua pekerjaan tersebut mendapat pengakuan dari masyarakat, ketiga adanya organisasi profesi, dan keempat mempunyai kode etik sebagai landasan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab pekerjaan profesi. Kata profesional berasal dari kata sifat yang memiliki arti pencaharian, dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian (Usman, 2001:14). Sedangkan menurut Mc Leod (Muhibbin, 1995:230) kata profesional berarti orang yang melaksanakan sebuah profesi dengan menggunakan profesiensi sebagai mata pencaharian. Sementara itu Sanusi (1991:19) mengungkapkan bahwa istilah profesional merujuk kepada dua hal: Pertama Orang yang menyandang suatu profesi yang merupakan suatu model bagi konsepsi suatu pekerjaan yang sangat diinginkan dan dicita-citakan, kedua penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Dalam kontek orang yang menyandang suatu profesi seperti guru, maka Wahab (Muharam, 2001: 40) mengemukakan tentang makna profesional adalah orang yang memiliki :
(1) kemampuan profesional, (2) mampu melakukan upaya-upaya profesional, ahli dalam pekerjaanya, (3) profesional dalam bidangnya dan unggul dalam pekerjaannya, (4) mencurahkan waktu yang cukup untuk pekerjaan, (5) memiliki motivasi dan komitmen yang tinggi, (6) memiliki kesesuaian keahlian dalam pekerjaannya, (7) dapat memenuhi kesejahteraaan dengan kemampuan profesional yang dimilikinya.

Sedangkan profesional dalam kontek penampilan dikalangan tenaga kependidikan adalah menunjukan kepada performance guru yang dalam melaksanakan tugasnya penuh tanggungjawab. Tanggungjawab profesional guru sebagaimana diungkapkan Satori (Djuariah, 2001 ) meliputi :
1. Merencanakan kegiatan pembelajaran;
2. Melaksanakan kegiatan pembelajaran;
3. Menilai nilai hasil proses dan hasil pembelajaran;
4. Memanfaatkan hasil penelitian bagi peningkatan pelayanan pembelajaran;
5. Memberikan umpan balik secara tepat, teratur dan terus menerus kepada peserta didik;
6. Melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar;
7. Menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan;
8. Memgembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran;
9. Memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia;
10. Mengembangkan interaksi pembelajaran (strategi, metode, dan teknik);
11. Melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran.

Dalam KBBI (1996:786) dinyatakan bahwa profesionalisme berarti mutu, kwalitas dan tindak-tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional. Sementara itu Muhibbin (2000:230) mengungkapkan bahwa profesionalisme dapat dipahami sebagai kwalitas dan tindak-tanduk khusus yang merupakan ciri orang profesional. Hal ini dapat diasumsikan bahwa yang harus dipertanggungjawabkan oleh orang yang profesional itu adalah mutu dari kinerjanya, Sartika (2000:47) mengungkapkan bahwa mutu adalah suatu proses yang disusun untuk meningkatkan hasil-hasil produk. Dalam kontek pendidikan yang berkaitan dengan masalah ini adalah guru dalam rangka peningkatan kelas atau nilai peserta didik.
Menurut pendapat Engkoswara (1995) bahwa kriteria efektivitas dalam dunia pendidikan adalah :
1. Prestasi
a. Masukan yang merata sebagai realisasi prinsip demokrasi pendidikan.
b. Keluaran yang banyak, bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan
c. Nilai ekonomi yang bagi keluaran khsususnya tamatan.
2. Proses
a. Menggairahkan dan memberi motivasi siswa belajar
b. Semangat dan disiplin kerja yang tinggi para tenaga kependidikan
c. Memiliki kepercayaan yang tinggi dari berbagai pihak.

Dari pengertian di atas dapat diambil benang merahnya bahwa pada prinsipnya efektivitas pengelolaan sumber daya manusia itu berorientasi pada upaya mewujudkan tujuan dan proses dengan cepat ditandai dengan jumlah personil, semangat kerja, waktu pelaksanan program, fasilitas yang digunakan, pengunaan biaya, terpenuhinya sumber daya manusia yang tepat secara kuantitas maupun kualitas dengan kinerja yang tinggi. Seorang kepala sekolah haruslah mempunyai visi. Visi tersebar karena suatu proses yang menguatkan, yang meningkatkan kejelasan antusiasme, komunikasi dan komitmen. Visi yang muncul juga dapat mati karena para kepala sekolah dan guru terlalu sibuk dengan tuntutan dari realitas saat ini dan kehilangan fokusnya terhadap visi. Faktor yang membatasi pada kasus ini adalah waktu dan energi untuk memfokuskan pada suatu visi.
Sedangkan Peter Jarvis dalam bukunya Profesional Education menyatakan bahwa seorang pimpinan pada dasarnya adalah yang harus berpengetahuan dalam bidang tersebut didefinisikan sebagai berikut ….. “Knowledge is the certainty that phenomena are real and that they prossess certain characteristics. Dijelaskan kembali oleh Ayer (Jarvis, 2000: 66) the necessary and sufficient condition for knowledge that something is the case are first that what one is said to know be true, secondly that one be sure of it, and thirdly that one should have the right to be sure”. Lain lagi pendapat Gode (Daryanto, 2001: 73), bahwa seorang guru harus profesional digambarkan yang mempunyai tujuh karakteristik yang dominan antara lain sebagai berikut :
1. Orang yang selalu memegang prinsip;
2. Applicable, selalu dapat mencari solusi sederhana terhadap serumit apapun masalah yang timbul;
3. Pandangan atau keahlian yang diterapkan selalu seiring dengan kehendak masyarakat sehingga tidak menimbulkan gejolak;
4. Selalu menempatkan pada posisi dimana dia selalu dapat memecahkan masalah;
5. Harus kreatif membangun ide-ide yang baru
6. Selalu menerima kesepakatan yang telah diputuskan
7. Pengetahuannya dan pengalamannya yang luas selalu menjadi pemecah masalah yang buntu sulit dipecahkan

Menurut pendapat Peter M. Senge (1996:135) kemandirian seorang pimpinan penguasaan manajemen dan kefasihannya akan paradigma keilmuan jelas merupakan jiwa dari organisasi pembelajar yang menginginkan kemajuan dan sanggup bersaing sepanjang zaman. Senada dengan pendapat tersebut Robert Fritz (Senge, 1996:137).
Sepanjang sejarah, hampir setiap kebudayaan telah memiliki seni, arsitektur, sajak, dongeng, gerabah dan pahatannya. Keinginan untuk mencipta tidak dapat dibatasi oleh kepercayaan, kebangsaan , kewajiban, latar belakang pendidikan, atau masa. Dorongan itu ada dalam diri manusia tidak dapat dibatasi dalam seni, tetapi dapat meliputi semua aspek dari kehidupan, mulai dari yang keduniawian, sampai dengan yang mendasar.

Banyak ahli yang telah berusaha meneliti dan mengemukakan pendapatnya mengenai sifat-sifat baik manakah yang diperlukan bagi seorang pemimpin agar dapat sukses dalam kepemimpinannya. Ghizeli dan Stogdile (Purwanto, 1987:31) mengemukakan lima sifat yang perlu dimiliki oleh seorang guru sebagai pemimpin yaitu kecerdasan, kemampuan mengawasi, inisiatif, ketenagan diri, dan kepribadian. Sedangkan Thierauf (Purwanto, 1987:31) mengemukakan bahwa : “Adanya 16 sifat utama seorang pimpinan yang baik antara lain : Kecerdasan, inisiatif, khayal, bersemangat, optimis, individualisme, keberanian, keaslian, kesediaan menerima, kemampuan berkomunikasi, rasa perlakuan yang wajar, kepribadian, keuletan, manusiawi, kemampuan mengawasi”. Mouton (Purwanto, 1987:37) memberikan lima jenis gaya kepemimpinan pendidikan berdasarkan perbedaan perlakuannya sebagai berikut :
1. Improveshed management. Pemimpin berprilaku dengan meberikan perhatian yang rendah, baik terhadap proses maupun terhadap bawahan.
2. Country club management. Pemimpin berprilaku memberikan perhatian rendah terhadap proses tetapi perhatian tinggi terhadap bawahan.
3. Task or authorian management. Pemimpin berprilaku memberikan perhatian yang tinggi terhadap proses tetapi memberikan perhatian rendah terhadap bawahan.
4. Middle road management. Pemimpin berprilaku memberikan perhatina yang seimbang terhadap proses maupun terhadap bawahan.
5. Team or democratic management. Pemimpin berprilaku memberikan perhatian yang tinggi, baik terhadap proses, maupun terhadap bawahan.

Pendapat Sutarto (Purwanto, 1995:39). Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan gaya kepemimpinan antara lain sifat pribadi pemimpin, sifat pribadi bawaha, sifat pribadi sesama pemimpin, struktur organisasi, tujuan organisasi, kegiatan yang dilakukan, motivasi kerja, harapan pemimpin maupun bawahan, pengalaman pemimpin maupun bawahan, adat, kebiasaan, tradisi, budaya, lingkungan kerja, tingkat pendidikan pemimpin, maupun bawahan, budaya lingkungan kerja, lokasi organisasi di kota besar, kota kecil atau desa, politik, keamanan yang sedang berlangsung disekitarnya. Selanjutnya Fred Fielder menyatakan seorang pemimpin akan cenderung berhasil dalam menjalankan kepemimpinannya apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berlainan untuk menghadapi situasi yang berbeda. Menurut pendekatan ini, ada tiga variable yang menentukan efektif tidaknya kepemimpinan, yaitu :
1. Hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin.
2. Derajat struktur tugas
3. Kedudukan kekuasaan pimpinan. Masih menurut Fielder pemimpin dengan bawahannya merupakan variable yang terpenting dalam menentukan situai yang menguntungkan. Derajat struktur tugas merupakan masukan kedua sangat penting bagi situasi yang menguntungkan, dan kedudukan kekuasaan pemimpin yang diperoleh melalui wewenang formal merupakan dimensi penting ketiga dari situasi.
Pendekatan sifat-sifat sangat diperlukan dalam kepemimpinan pendidikan, mengingat bahwa kepala sekolah dan guru-guru ataupun para pendidik lainnya perlu memiliki sifat-sifat yang baik yang sesuai dengan norma-norma yang dituntut oleh pendidikan. Sebagai pendidik, guru dan pendidik lainnya diharapkan dapat menjadi suri tauladan, dapat memberikan contoh perilaku yang baik kepada anak-anak didiknya. Kepala sekolah dituntut agar memiliki sifat-sifat yang baik untuk dapat memberi bimbingan, sekaligus memberi contoh kepada guru-guru dan para siswanya. Para pemimpin pendidikan, termasuk kepala sekolah dan guru-guru perlu menyadari bahwa tiap lembaga pendidikan memiliki situasi yang berbeda-beda sehingga memerlukan perilaku kepemimpinan yang berbeda pula. Setiap guru yang berpengalaman akan mengetahui bahwa setiap kelas memiliki semangat dan suasana yang berlain-lainan. Maka dengan demikian diperlukan cara pelayanan dan cara mengajar yang bervariasi atau bagaimana memimpin murid-muridnya menjadi manusia yang diinginkan sesuai dengan visi dan misi sekolah yang bersangkutan.
Menurut Peter Drucker (2001:348) seorang guru adalah juga sebagai seorang pemimpin yang harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. Kesadaran diri sendiri yang lebih tinggi. Sebuah pemahaman yang komprehensif atau kekuatan dan kelemahan seseorang, bagaimana hal tersebut dipandang oleh orang lain, dan bagaimana mereka mempengaruhi orang lain adalah sangat penting. Efek tersebut adalah seperti bercermin pada beberapa cermin sekligus untuk melihat dirinya sendiri seperti apa yag dilihat orang lain.
2. Kebiasaan meminta umpan balik. Adalah melalui dorongan akan umpan balik yang jujur namun konstruktif dari orang lain, atasan, rekan, dan laporan langsung, para pemimpin dapat mengembangkan kesadaran diri sendiri yang dapat menjadi dasar perubahan dan aksi pribadi. Umpan balik ini biasanya, meskipun tidak selalu, dapat diperoleh melalui alat-alat umpan balik yang canggih diisi oleh orang tersebut atau orang lain yang telah divalidasi secara teliti untuk ketepatan dan konsistensi dalam hubungannya dengan maksud kegunaannya.
3. Haus akan belajar. Mudah menerima pengetahuan baru dan kemauan untuk mengubah persfektif dan perilaku seseorang yang berdasarkan hal itu dapat merupakan hal penting dan tantangan tersendiri. Tantangannya adalah bagaimana belajar dari pengalaman secara konsisten, dan menyesuaikan perilaku seseorang.
4. Integrasi antara kerja dan kehidupan pribadi. Memimpin dan hidup berhubungan erat, karena pemimpin-pemimpin yang efektif harus mempunyai keyakinan diri yang kuat sebagai manusia seutuhnya, tidak hanya sebagai orang yang diidentifikasikan oleh karier guru atau status pekerjaan. Dewasa ini tidak ada batas yang jelas antar kehidupan di rumah dan pekerjaan. Tuntutan keluarga dan masyarakat harus seimbang atau mungkin lebih tepatnya, terintegrasi dengan tuntutan pekerjaan. Hal itu berarti guru haruslah menjadi dirinya sendiri dan merasa nyaman dalam semua konteks tersebut dan menyelaraskan situasi-situasi diatas, karena mereka memperoleh kekuatan dari sumber nilai-nilai kepribadian yang sama. Guru haruslah mencari sebuah pase dimana ia dapat dan memperbaharui diri, baik mental maupun spiritual.
5. Menghormati perbedaan pada orang lain. Agar menjadi efektif dalam lingkungan global yang sedang tumbuh, pemimpin global harus sadar akan adanya, dan sensitif terhadap, orang dan situasi yang jauh berbeda. Dalam hal ini perbedaan sensitivitas terahadap perbedaan bahasa, kebiasaan budaya, yang dengan sendirinya penting. Dalam pengertian kemampuan untuk menemukan kecocokan dan sintesa dalam sudut pandangan yang sangat berbeda, dan memberi kesempatan bagi persfektif dan nilai-nilai orang lain.
Menurut Robbin (1977: 90) dengan kekecualian isu perbedaan pria dan wanita agaknya tidak ada isyu yang lebih merupakan mitos dan spekulasi dari pada dampak senioritas pada kinerja pekerjaan. Bukti menunjukkan bahwa masa kerja dan kepuasan saling berkaitan secara positif. Memang, bila usia dan masa kerja diperlakukan secara terpisah, tampaknya masa kerja akan merupakan peramalan yang lebih konsisten dan mantap dari kepuasan kerja daripada usia kronologis. Aspek-aspek perangkat kompetensi profesionalisme guru adalah yang berkaiatan dengan tugas guru dalam mengelola proses pembelajaran. Kompetensi profesional guru berdasarkan pendapat Satori (Herawan, Dedi . 2004.:40) dapat dikelompokan sebagai berikut :
1). Kemampuan merencanakan pembelajaran yang meliputi :
(1). Kemampuan penguasaan kurikulum ke dalam program semester
(2). Kemampuan penguasaan bahan pembelajaran dan penguasaan struktur konsep-konsep keilmuan.
(3).Kemampuan menyusun perenanaan mengajar atau membuat satuan pembelajaran.
2). Kemampuann melaksanakan proses pembelajaran yang meliputi hal-hal sebagai berikut :
(1) Kemampuan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan teknik, gaya/seni dan prosedur mengajar yang sesuai.
(2) Kemampuan menciptakan dialog kreatif dan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
(3) Kemampuan membuat dan menggunakan alat bantu mengajar sederhana secara efektif dan efesien.
(4) Kemampuan menggunakan dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan media mengajar
(5) Kemampuan membimbing dan melayani siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
(6) Kemampuan mengatur waktu dan menggunakan secara efesiens untuk menyelesaikan program-program belajar siswa
(7) Kemampuan memberikan bahan pembelajaran dengan memper-hatikan perbedaan karakteristik individu diantara siswa baik kelompok maupun perorangan.
(8) Kemampuan mengelola kegiatan pembelajaran, baik kegiatan kokorikuler maupun ekstrakurikuler, serta kegiatan-kegiatan lainnya yang berkaitan dengan pembelajaran siswa.
3). Kemampuan menilai hasil belajar mengajar, yang meliputi
(1). Kemampuan menyusun kisi-kisi dan soal sebagai alat penilaian.
(2). Kemampuan menilai proses dan hasil belajar
(3) Kemampuan untuk memberikan umpan balik untuk perbaikan hasil pembelajaran maupun perbaikan pembelajaran secara teratur dan berkesinambungan.

Muhibin (2000:230) yang mengemukakan bahwa “kewenangan guru dalam menjalankan keprofesionalannya dituntut memiliki keanekaragaman kompetensi yang bersifat psikologis sebagai berikut : (1) kompetensi kognitif (kecakapan ranah cipta), (2) kompetensi afektif (kecakapan ranah rasa), (3) kompetensi psikomotorik (kecakapan ranah karsa). Berdasarkan pendapat-pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi adalah sekelompok atau sejumlah ikatan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang memfasilitasi tugas guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s