MUTU SEKOLAH

Pengertian mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil
pendidikan. Dalam “proses pendidikan” yang bermutu terlibat dari berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah, dukungan kelas berfungsi mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yang akademis maupun yang non akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran.

Mutu dalam konteks “hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir cawu, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnya Ulangan Umum, Ujian Nasional). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabang olah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer, beragam jenis teknik, dan jasa. Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan, dan sebagainya.

Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (ouput) harus dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawab sekolah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses, tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahui hasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau “kognitif” dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya : NUN oleh PKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking) maupun yang lain (kegiatan ekstra kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah sebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RKAS harus merupakan penjabaran dari target mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya.

 Konsep Mutu Sekolah

Suatu sekolah yang berorientasi pada “mutu” dituntut untuk selalu bergerak dinamis penuh upaya inovasi, dan mengkondisikan diri sebagai lembaga atau organisasi pembelajar yang selalu memperhatikan tuntutan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Untuk itu sekolah dituntut untuk selalu berusaha menyempurnakan desain atau standar proses dan hasil pendidikan agar dapat menghasilkan “lulusan” yang sesuai dengan tuntutan masyarakat. Sehubungan dengan upaya peningkatan mutu, terdapat lima kekuatan pokok yang dapat mendorong gerak lembaga sekolah mencapai “mutu” pendidikan yang diharapakan yaitu: (a) Kepemimpinan yang efektif; (b) Desain/standar yang tepat; (c) Sistem yang efektif; (d) Kesadaran dan motivasi personal; (e) Lingkungan yang kondusif.

a.   Kepemimpinan sekolah, yaitu pihak penyelenggara dan pengelola  sekolah atau kepala sekolah dituntut untuk dapat melaksanakan fungsinya secara efektif, pandai memimpin, memahami prinsip pendidikan, serta berwawasan mutu. Bila unsur pimpinan sekolah dapat melaksanakan fungsinya secara baik maka dapat dipastikan sekolah yang bersangkutan akan lebih cepat mencapai kemajuan. Terbukti telah banyak sekolah yang semula kurang bermutu tetapi setelah dipimpin oleh kepala sekolah yang efektif ternyata sekolah itu dapat bergerak maju, semakin meningkat mutunya. Sehubungan dengan itu banyak orang berpendapat bahwa lebih dari 50% kemajuan sekolah dipengaruhi oleh faktor kepala sekolahnya.

b.   Desain/standar yang tepat, yaitu kurikulum dan perangkat pendidikan  lainnya tentu dituntut untuk memenuhi standar mutu yang sesuai dengan harapan masyarakat. Mengingat kondisi masyarakat yang dinamis maka desain/standar itu pun harus selalu disesuaikan dengan kedinamisan tuntutan kebutuhan masyarakat tersebut, sehingga sekolah dapat selalu tampil unggul.

c.   Sistem yang berjalan efektif, maksudnya adalah hal-hal yang menyangkut pelaksanaan birokrasi yang berlaku yaitu pelaksanaan ketentuan, peraturan, prosedur, dan juga kriteria dapat berjalan efektif sesuai dengan azasnya. Sebagai sebuah sekolah yang memberikan layanan pendidikan tentu dituntut untuk melaksanakan fungsinya secara tertib dan tersistem. Proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang dilakukan secara tertib, konsisten, dan konsekuen sesuai desain/standarnya akan dapat menjamin tercapainya mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Sebagaimana peran kepala sekolah, faktor penerapan sistem yang efektif juga sangat berpengaruh terhadap suksesnya layanan sekolah dan pencapaian peningkatan mutu pendidikan.

d.   Kesadaran dan motivasi personal, maksudnya setiap individu yang terlibat dalam kegiatan di sekolah baik peserta didik, guru, maupun personal lainnya perlu menyadari bahwa mereka memiliki kebutuhan pribadi terhadap keberadaan sekolah, sehingga mereka dituntut memiliki tanggung jawab terhadap kelancaran penyelenggaraan sekolah. Dengan adanya kesadaran pribadi untuk saling bekerjasama dan bertanggung jawab atas fungsi masing-masing yang didorong oleh kebutuhan pribadi tersebut, maka hal itu akan menjadi faktor pendorong gerak maju sekolah. Tanpa adanya faktor pendorong ini maka sekolah akan tutup karena tak ada lagi yang mau mengajar dan belajar di sekolah tersebut.

e.   Lingkungan yang kondusif, artinya dengan terwujudnya suatu lingkungan sekolah yang nyaman menyenangkan tentu akan memberikan dorongan terhadap peningkatan mutu kegiatan pendidikan di sekolah. Semakin baik dan lengkap fasilitas sekolah tentu akan semakin membantu dalam peningkatan mutu dan pencampaian tujuan pendidikan.

Ke-lima faktor pendorong terhadap gerak majunya sekolah tersebut di atas satu dengan yang lainnya akan saling mempengaruhi, artinya bila terjadi peningkatan mutu di salah satu faktornya maka akan meningkatkan mutu pada faktor lainnya. Dan, sekolah hendaknya memperhatikan benar terhadap ke-lima faktor penentu peningkatan mutu tersebut.

Dengan diterapkannya manajemen mutu sekolah dalam bentuk pelaksanaan program peningkatan mutu secara berkesinambungan diharapkan sekolah akan memperoleh kemanfaatan-kemanfaatan antara lain sebagai berikut:

  1. Fokus sasaran akan lebih jelas, dengan tujuan dan standar yang jelas;
  2. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan kegiatan lainnya akan lebih efektif, terhindar dari adanya kesalahan-kesalahan;
  3. Mengurangi pemborosan waktu, tenaga, dan biaya;
  4. Menghasilkan lulusan yang memenuhi standar/bermutu;
  5. Nama baik sekolah dan kepercayaan masyarakat meningkat; dan
  6. Kesejahteraan personal meningkat.
    1. Mutu dan Indikator Mutu Pendidikan

Mutu pada dasarnya berkaitan dengan produk/barang dan jasa/kinerja dapat diidentifikasi ke dalam dua kelompok yang berkepentingan, Nasution (2005:112) yaitu

  1. Pihak produsen, yang menyatakan sesuatu barang atau produk dan .jasa dipandang memiliki mutu apabila:

    a.     menunjukan kesesuaian dengan spesifikasi/rancang bangun yang telah ditetapkan (conformance to spesification).

    b.     Menunjukan kecocokan dengan maksud atau peruntukannya (Fitnes for
    purpose or use)

    c.    Menunjukkjan tanpa cacat atau kelemahan (zero defect).

    d.     Benar/tepat untuk pertama kalinya dan seterusnya (right first time and every time)

  2. Pihak pelanggan, yang menyatakan bahwa suatu barang dan jasa dipandang bermutu apabila:

    a.     Memuaskan pelanggan (customers satisfaction)

    b.    Memenuhi jauh diluar apa yang diharapkan pelanggan (exceeding corturner expectation)

    c.    Menyenangkan/menggairahkan pelanggan (delighting the costumer).

Didasari oleh konsep yang dikemukakan oleh Yoseph S.Martinice tentang dimensi mutu suatu barang produk maka dapat dikemukakan di sini beberapa dimensi mutu sekolah atau kriteria-kriteria mutu sekolah sebagai berikut:

Dimensi Mutu Barang Produk

(Yoseph S.Martinice)

Dimensi Mutu Sekolah

  1. Bermanfaat, tepat, sesuai fungsinya.

1. Sekolah melaksanakan kegiatan sesuai fungsinya sebagai lembaga pendidikan.

  1. Memiliki keistimewaan.
  1. Sekolah memiliki nilai kelebihan/ keunggulan.

3. Handal, tahan lama / tidak cepat rusak

  1. Terpercaya sebagai sekolah yang baik, yang menghasilkan tamatan bermutu.
  1. Memiliki kemudahan dalam  penggunaan/ pemakaian.
  1. Fasilitas memenuhi standar dan  kondisi sekolahnya nyaman, me- nyenangkan.

5. Penampilannya manarik.

  1. Penampilan fisik dan kegiatan sekolahnya menarik.

6. Mengesankan

  1. Profil sekolah mengesankan, favorit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s