Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

BAB I

P E N D A H U L U A N

A.   Latar Belakang Masalah

Penelitian merupakan upaya mencari dan membuktikan kebenaran secara ilmiah. Penelitian dikatakan ilmiah apabila dalam cara kerjanya menunjukkan ciri-ciri keilmuan tertentu, yaitu rasional, empiris dan sistematis. Rasional artinya, penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris artinya, cara-cara yang dilakukan dapat diamati oleh indera manusia. Sistematis artinya, penelitian menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis. Dari langkah keilmuan tersebut diperoleh suatu hasil atau temuan penelitian yang terpercaya. James H. Mc, Milan, (2001 : 11) menjelaskan bahwa suatu investigasi dikatakan penelitian apabila mengandung karakteristik objektif, akurat, dapat dibuktikan, menjelaskan , kenyataan empiris, logis, dan sesuai kondisi nyata. Keberadaan ukuran-ukuran tersebut menunjukkan derajat keilmiahan suatu penelitian.

Secara umum kualitas lulusan pascasarjana di Indonesia masih bersifat “ritel agung”.Maksudnya masih sebagai pengecer teori dari luar yang sangat kurang diperkaya dengan latihan atau verifikasi secara ilmiah untuk membuktikan kebenarannya.

Hal ini diungkapkan pengamat pendidikan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Makmur Sukarno. Menurut dia, para lulusan pascasarjana yang ada memiliki cara pandang yang jauh dari realitas yang ada. “Lulusan kita (pascasarjana) masih terkungkung pada sekadar text book. Dan sejauh ini teori teks tadi tidak terlalu diverifikasi para mahasiswanya sehingga menjadi sebuah realitas yang terasing,’’ sebut Makmur.

Mahasiswa strata dua (S-2) biasanya harus menyelesaikan tesis dengan melakukan riset yang benar-benar untuk membuktikan kebenaran teori-teori yang rata-rata dari luar negeri.‘’Temanya bolehlah masalah Indonesia, masalah nasionalisme, tapi hendaknya teori-teori yang ada harus mendapatkan pembuktian di Tanah Air sehingga kita benar-benar hidup dalam sebuah realitas yang nyata,”tuturnya. Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dikti Depdiknas) sebenarnya telah memiliki program-program penelitianyangbaik.

Mengingat hal-hal tersebut di atas penyusun akan mencoba menyajikan salah satu bagian yang penting dalam metodologi penelitian, yaitu “ Langkah – langkah Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif “

B.   Pengertian Judul

Untuk lebih terfokusnya pembahasan makalah ini, maka penulis akan menjelaskan istilah yang ada dalam judul makalah ini, yaitu :

  1. Penelitian berarti usaha menemukan, mengembangkan dan menguji suatu pengetahuan  secara ilmiah (Sutrisno Hadi) (1978) .
  2. Penelitian Kuantitatif adalah definisi, pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka.
  3. Penelitian Kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Strauss dan Corbin (1997: 11-13).

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Sebagaimana telah diuraikan dalam latar belakang masalah bahwa aspek-aspek penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif itu amat luas, maka penulis membatasi permasalahan hanya membahas langkah-langkah penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif saja’

Adapun rumusan masalahnya adalah  :

  1. Apakah pengertian Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif ?
  2. Bagaimanakah langkah-langkah Penelitian Kuantitatif itu ?
  3. Bagaimanakah langkah-langkah Penelitian Kualitatif itu ?
  4. Apakah perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif ?

D.  Tujuan Pembahasan

Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan ini adalah :

1.    Untuk memperoleh pengertian Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif

2.    Untuk memperoleh gambaran teoritis tentang langkah-langkah penelitian Kuantitatif

3.    Untuk memperoleh gambaran teoritis tentang langkah-langkah penelitian Kualitatif

4.    Untuk memperoleh gambaran teoritis tentang perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif’

E. Metoda Pendekatan

Dalam membahas makalah ini, penulis akan menggunakan pendekatan studi literatur atau telaah buku dan dokumen-dokumen penunjang lainnya, maksudnya penulis akan menelaah buku-buku sumber dan tesis-tesis koleksi perpustakaan.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

1.  Penelitian Kuantitatif

A.  Pengertian

Penelitian kuantitatif adalah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan kuantitatif.

Penelitian kuanitatif adalah penelitian yang terdiri dari banyak bentuk baik survei, eksperimen, korelasi, dan regresi. Beberapa orang mengatakan penelitian kuantitatif jauh lebih mudah dari kualitatif. Namun, hal tersebut tidak bisa dinyatakan dengan pasti karena harus dikembalikan pada bentuk penelitian yang objek yang digunakan. Saat ini masih banyak orang yang belum memahami dengan seperti apa penelitian kuantitatif. Hal ini termasuk penelitian eksperimen yang merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakukan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan.

Penelitian kuantitatif banyak dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme. Pendekatan ini juga digunakan sebagai cara untuk meneliti berbagai aspek dari pendidikan. Istilah penelitian kuantitatif sering dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial untuk membedakannya dengan penelitian kualitatif.

Penelitian kuantitatif adalah definisi, pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka. Sebagai contoh: 240 orang, 79% dari populasi sampel, mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka pribadi masa depan mereka dari setahun yang lalu hingga hari ini. Menurut ketentuan ukuran sampel statistik yang berlaku, maka 79% dari penemuan dapat diproyeksikan ke seluruh populasi dari sampel yang telah dipilih. pengambilan data ini adalah disebut sebagai survei kuantitatif atau penelitian kuantitatif.

Ukuran sampel untuk survei oleh statistik dihitung dengan menggunakan rumusan untuk menentukan seberapa besar ukuran sampel yang diperlukan dari suatu populasi untuk mencapai hasil dengan tingkat akurasi yang dapat diterima. pada umumnya, para peneliti mencari ukuran sampel yang akan menghasilkan temuan dengan minimal 95% tingkat keyakinan (yang berarti bahwa jika Anda survei diulang 100 kali, 95 kali dari seratus, Anda akan mendapatkan respon yang sama) dan plus / minus 5 persentase poin margin dari kesalahan. Banyak survei sampel dirancang untuk menghasilkan margin yang lebih kecil dari kesalahan.

Beberapa survei dengan melalui pertanyaan tertulis dan tes, kriteria yang sesuai untuk memilih metode dan teknologi untuk mengumpulkan informasi dari berbagai macam responden survei, survei dan administrasi statistik analisis dan pelaporan semua layanan yang diberikan oleh pengantar komunikasi. Namun, oleh karena sifat teknisnya metode pilihan pada survei atau penelitian oleh karena sifat teknis, maka topik yang lain tidak tercakup dalam cakupan ini.

2. PENELITIAN KUALITATIF

  1. A. Pengertian

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang terpenting dari sifat suatu barang / jasa. Penelitian kualitatif dieksplorasi dan diperdalam dari suatu fenomena social atau suatu lingkungan social yang terdiri atas pelaku, kejadian, tempat dan waktu.

Penelitian kualitatif dilakukan dikarenakan peneliti ingin mengekspor fenomena – fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriftif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu barang dan jasa, tata cara suatu budaya dan sebagainya. Berg (2007:3) Mengatakan bahwa : “Qualitative Research  (QR) thus refers to the meaning, concepts, definitions, characteristics, methapors, symbols, and descriptions of things”. Sedangkan Mulyana (2003) mengatakan bahwa pendekatan kualitatif cenderung mengarah pada penelitian yang bersifat naturalistic fenomenologis dan fenelitian etnografi. Karenanya penelitian kualitatif dipertukarkan dengan penelitian naturalistic atau naturalistic inquiry dan etnografi dalam antropologi kognitif.

Denzin dan Lincoln (Moleong, 2007:5), menyatakan bahwa : penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar belakang alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode. Dan Creswell (1998) mengemukakan  qualitative research is an inquiry process of understanding based on distinct methological traditions of inquiry  that exploresocial or human problem. The reports detailed views of informants, and conducts the study in natural setting. (Penelitian kualitatif adalah suatu proses inquiry tentang pemahaman berdasar pada tradisi – tradisi metodologis terpisah, jelas pemeriksaan bahwa menjelajah suatu masalah social atau manusia. Peneliti membangun suatu kompleks, gambaran holistic meneliti kata – kata, laporan – laporan memerinci pandangan – pandangan dari penutur asli, dan melakukan studi di suatu pengaturan yang alami.

Menurut Poerwandari (1998) penelitian kualitatif  adalah penelitian yang menghasilkan dan mengolah data yang sifatnya deskriptif, seperti transkripsi wawancara , catatan lapangan, gambar, foto rekaman video dan lain-lain.

Dalam penelita kualitatif perlu menekankan pada pentingnya kedekatan dengan orang-orang dan situasi penelitian, agar peneliti memperoleh pemahaman jelas tentang realitas dan kondisi kehidupan nyata.( Patton dalam Poerwandari, 1998)

  1. B. Karakter Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif memiliki karakteristik dengan mendeskrifsikan suatu keadaan yang sebenarnya. Akan tetapi laporannya bukan hanya sekedar bentuk laporan melainkan suatu kejadian tanpa suatu interpretasi ilmiah. karakter penelitian kualitatif diantaranya.

  1. Penelitian kualitatif memiliki latar alamiah dengan sumber data yang langsung dan instrument kuncinya adalah penelitiannya.
  2. Penelitian kualitatif bersifat deskriftif.
  3. Penelitian kualitatif bekerja dengan focus pada proses danhasil merupakan keniscayaan.
  4. Penelitia kualitatif dalam cara analisis datanya dilakukan secara induktif .
  5. Peneliti kualitatif menjadikan “makna” sebagai yang esensial.
  6. Penelitian kualitatif menjadikan focus studi sebagai batas penelitian
  7. Penelitian kualitatif desain awalnya bersifat tentative dan verifikatif
  8. Penelitian kualitatif menggunakan criteria khusus untuk ukuran keabsahan data.
  9. Penelitian kualitatif untuk kepentingan grounded theory.
  1. C. Sistematika Penelitian Kualitatif

Judul
Abstrak
Kata Pengantar

Daftar Isi

Daftar Gambar

Bab I Pendahuluan

Konteks Penelitian

Fokus Kajian Penelitian

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Bab II Perspektif Teoritis dan Kajian Pustaka

Bab III Metode Penelitian

Pendekatan
Batasan Istilah

Unit Analisis

Deskripsi Setting Penelitian

Pengumpulan Data

Analisis Data

Keabsahan data

Bab IV Hasil dan pembahasan

Bab VI Kesimpulan dan saran

Daftar pustaka

Lampiran
Penjelasan secara ringkas keseluruhan unsur yang ada dalam penelitian kualitatif, yaitu:

  1. Judul, singkat dan jelas serta mengisyaratkan fenomena dan fokus kajian penelitian. Penulisan judul sedapat mungkin menghindari berbagai tafsiran yang bermacam-macam dan tidak bias makna.
  2. Abstrak, ditulis sesingkat mungkin tetapi mencakup keseluruhan apa yang tertulis di dalam laporan penelitian. Abstrak penelitian selain sangat berguna untuk membantu pembaca memahami dengancepat hasil penelitian, juga dapat merangsang minat dan selera orang lain untuk membacanya.
  3. Perspektif teoritis dan kajian pustaka, perspektif teori menyajikan tentang teori yang digunakan sebagai perpektif baik dalam membantumerumuskan fokus kajian penelitian maupun dalam melakukan analisis data atau membahas temuan-temuan penelitian. Sementara kajian pustaka menyajikan tentang studi-studi terdahulu dalam konteks fenomena dan masalah yang sama atau serupa.
  4. Metode yang digunakan, menyajikan secara rinci metode yang digunakan dalam proses penelitian.
  5. Temuan–temauan penelitian, menyajikan seluruh temuan penelitian yang diorganisasikan secara rinci dan sistematis sesuai urutan pokok masalah atau fokus kajian penelitian. Temuan-temuan penelitian yang disajikan dalam laporan penelitian merupakan serangkaian fakta yang sudah direduksi secara cermat dan sistematis, dan bukan kesan selintas peneliti apalagi hasil karangan atau manipulasi peneliti itu sendiri.
  6. Analisis temuan– temuan penelitian. Hasil temuan memerlukan pembahasan lebih lanjut dan penafsiran lebih dalam untuk menemukan makna di balik fakta. Dalam melakukan pembahasan terhadap temuan-temuan penelitian, peneliti harus kembali mencermati secara kritis dan hati-hati terhadap perspektif teoritis yang digunakan.

D. Jenis-jenis Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki 5 jenis penelitian, yaitu:

1. Biografi

Langkah-langkah analisis data pada studi biografi, yaitu:

  1. Mengorganisir file pengalaman objektif tentang hidup responden seperti tahap perjalanan hidup dan pengalaman. Tahap tersebut berupa tahap kanak-kanak, remaja, dewasa dan lansia yang ditulis secara kronologis atau seperti pengalaman pendidikan, pernikahan, dan pekerjaan.
  2. Membaca keseluruhan kisah kemudian direduksi dan diberi kode.
  3. Kisah yang didapatkan kemudian diatur secara kronologis.
  4. Selanjutnya peneliti mengidentifikasi dan mengkaji makna kisah yang dipaparkan, serta mencari epipani dari kisah tersebut.
  5. Peneliti juga melihat struktur untuk menjelaskan makna, seperti interaksi sosial didalam sebuah kelompok, budaya, ideologi, dan konteks sejarah, kemudian memberi interpretasi pada pengalaman hidup individu.
  6. Kemudian, riwayat hidup responden di tulis dengan berbentuk narasi yang berfokus pada proses dalam hidup individu, teori yang berhubungan dengan pengalaman hidupnya dan keunikan hidup individu tersebut.

2.   Fenomenologi

Langkah-langkah analisis data pada studi fenomenologi, yaitu:

  1. Peneliti memulai mengorganisasikan semua data atau gambaran menyeluruh tentang fenomena pengalaman yang telah dikumpulkan.
  2. Membaca data secara keseluruhan dan membuat catatan pinggir mengenai data yang dianggap penting kemudian melakukan pengkodean data.
  3. Menemukan dan mengelompokkan makna pernyataan yang dirasakan oleh responden dengan melakukan horizonaliting yaitu setiap pernyataan pada awalnya diperlakukan memiliki nilai yang sama. Selanjutnya, pernyataan yang tidak relevan dengan topik dan pertanyaan maupun pernyataan yang bersifat repetitif atau tumpang tindih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanya horizons (arti tekstural dan unsur pembentuk atau penyusun dari phenomenon yang tidak mengalami penyimpangan).
  4. Pernyataan tersebut kemudian di kumpulkan ke dalam unit makna lalu ditulis gambaran tentang bagaimana pengalaman tersebut terjadi.
  5. Selanjutnya peneliti mengembangkan uraian secara keseluruhan dari fenomena tersebut sehingga menemukan esensi dari fenomena tersebut. Kemudian mengembangkan textural description (mengenai fenomena yang terjadi pada responden) dan structural description (yang menjelaskan bagaimana fenomena itu terjadi).
  6. Peneliti kemudian memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai fenomena tersebut.
  7. Membuat laporan pengalaman setiap partisipan. Setelah itu, gabungan dari gambaran tersebut ditulis.

3. Grounded theory

Langkah-langkah analisis data pada studi grounded theory, yaitu:

  1. Mengorganisir data
  2. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
  3. Open coding, peneliti membentuk kategori informasi tentang peristiwa dipelajari.
  4. Axial coding, peneliti mengidentifikasi suatu peristiwa, menyelidiki kondisi-kondisi yang menyebabkannya, mengidentifikasi setiap kondisi-kondisi, dan menggambarkan peristiwa tersebut.
  5. Selective coding, peneliti mengidentifikasi suatu jalan cerita dan mengintegrasikan kategori di dalam model axial coding.
    Selanjutnya peneliti boleh mengembangkan dan menggambarkan suatu acuan yang menerangkan keadaan sosial, sejarah, dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi peristiwa.

4. Etnografi

Langkah-langkah analisis data pada studi etnografi, yaitu:

  1. Mengorganisir file.
  2. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode
  3. Menguraikan setting sosial dan peristiwa yang diteliti.
  4. Menginterpretasi penemuan.
  5. Menyajikan presentasi baratif berupa tabel, gambar, atau uraian.

5. Studi kasus

Langkah-langkah analisis data pada studi kasus, yaitu:

  1. Mengorganisir informasi.
  2. Membaca keseluruhan informasi dan memberi kode.
  3. Membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya.
  4. Peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori.
  5. Selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain.
  6. Menyajikan secara naratif.
  1. E. Metode Pengumpulan Data

Beberapa metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1. Wawancara

Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.
2.  Observasi

Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.

Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur.

  • Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden.
  • Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek.
  • Observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku.
3.    Dokumen

Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.

4.    Focus Group Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kalompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti.
F.   Keabsahan Data

Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data, yaitu:
1. Kredibilitas

Apakah proses dan hasil penelitian dapat diterima atau dipercaya. Beberapa kriteria dalam menilai adalah lama penelitian, observasi yang detail, triangulasi, per debriefing, analisis kasus negatif, membandingkan dengan hasil penelitian lain, dan member check.

Cara memperoleh tingkat kepercayaan hasil penelitian, yaitu:

a. Memperpanjang masa pengamatan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan, bisa mempelajari kebudayaan dan dapat menguji informasi dari responden, dan untuk membangun kepercayaan para responden terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.

b. Pengamatan yang terus menerus, untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang diteliti, serta memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.

c. Triangulasi, pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.

d. Peer debriefing (membicarakannya dengan orang lain) yaitu mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat.

e. Mengadakan member check yaitu dengan menguji kemungkinan dugaan-dugaan yang berbeda dan mengembangkan pengujian-pengujian untuk mengecek analisis, dengan mengaplikasikannya pada data, serta denganmengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang data.

2. Transferabilitas yaitu apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan pada situasi yang lain.

3. Dependability yaitu apakah hasil penelitian mengacu pada kekonsistenan peneliti dalam mengumpulkan data, membentuk, dan menggunakan konsep-konsep ketika membuat interpretasi untuk menarik kesimpulan.

4. Konfirmabilitas yaitu apakah hasil penelitian dapat dibuktikan kebenarannya dimana hasil penelitian sesuai dengan data yang dikumpulkan dan dicantumkan dalam laporan lapangan. Hal ini dilakukan dengan membicarakan hasil penelitian dengan orang yang tidak ikut dan tidak berkepentingan dalam penelitian dengan tujuan agar hasil dapat lebih objektif.

G. Reliabilitas

Reliabilitas penelitian kualitatif dipengaruhi oleh definisi konsep yaitu suatu konsep dan definisi yang dirumuskan berbeda-beda menurut pengetahuan peneliti, metode pengumpulan dan analisis data, situasi dan kondisi sosial, status dan kedudukan peneliti dihadapan responden, serta hubungan peneliti dengan responden.

BAB III

PEMBAHASAN

LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN KUANTITATIF dan KUALITATIF

Mempelajari penelitian kualitatif tidak terlepas dari usaha mengenai tahapan – tahapan penelitian. Tahap – tahap penelitian kualitatif dengan salah satu cirri pokoknya peneliti sebagai alat penelitian. Khususnya analisis data cirri khasnya sudah dimulai sejak awal pengumpulan data. Hal itu yang amat berbeda dengan pendekatan yang menggunakan eksperimen.

A.  Tahapan Penelitian Kuantitatif

1. Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melatar belakangi  dilakukannya penelitian, apa hal yang menarik untuk melakukan penelitian biasanya karena adanya kesenjangan antara kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Dalam bagian ini dimuat deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian peneliti sebelumnya. Secara rinci latar belakang (Wardi Bachtiar:1997) berisi:

  • Argumentasi mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari bidang keilmuan/maupun kebutuhan praktis.
  • Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
  • Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian
  • Penjelasan bahwa masalah  tersebut relevan, aktual  dan sesuai dengan situasi dan kebutuhan zaman
  • Relevansinya dengna penelitian-penelitian sebelumnya
  • Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi perkembangan ilmu

2.   Identifikasi, Pemilihan  dan Perumusan Masalah

a.   Identifikasi Masalah

Masalah penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau teori dan sebagainya.

b.   Pemilihan Masalah

1). Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan dapat diuji)

2). Fisible (biaya, waktu dan kondisi)

3). Sesuai dengan kualifikasi peneliti

4). Menghubungkan dua variabel atau lebih  (Nazir: 1988)

c.    Sumber Masalah

Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian terdahulu, dan lain-lain.

d.   Perumusan Masalah

1). Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya

2). Jelas dan padat

3). Dapat menjadi dasar dalam merumusan hipotesa dan judul penelitian

Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, suatu masalah dapat dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya akan tetapi ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan yang ada di dalamnya. Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran tentang karakteristik masalah yang bersangkutan. Sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.

Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah, yaitu sebagai berikut:

1)   Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala-gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara gejala satu dengan gejala lainnya.

2)   Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti dua, artinya tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya. Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Masalah yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat menantang pemikiran lebih jauh.

3)   Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih lanjut secara empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan hubungan antargejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur (Ace Suryadi: 2000).

3..   Perumusan Tujuan dan Manfaat Penelitian

1)   Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa yang akan kita cari/ capai dari masalah penelitian. Cara merumuskan yang paling mudah adalah dengan mengubah kalimat pertanyaan dalam rumusan masalah menjadi kalimat pernyataan.

2)   Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan praktis (Arikunto:1992).

4.    Telaah Pustaka

1)   Manfaat Telaah Pustaka

2)   Untuk memperdalam  pengetahuan tentang masalah yang diteliti

3)   Menyusun kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran

4)   Untuk mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesa

5)   Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian

5.    Pembentukan Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan landasan pemikiran yang membantu arah penelitian, pemilihan konsep, perumusan hipotesa dan memberi kerangka orientasi untuk klasifikasi dan analisis data (Koentjaraningrat:1973). Kerangka teori dibuat berdasarkan teori-teori yang sudah ada atau berdasarkan pemikiran logis yang dibangun oleh peneliti sendiri.

Teori yang dibahas atau teori yang dikupas harus mempunyai relevansi yang kuat dengan permasalahan penelitian. Sifatnya mengemukakan bagaimana seharusnya tentang masalah yang diteliti tersebut berdasar konsep atau teori-teori tertentu. Khusus untuk penelitian hubungan dua variabel atau lebih  maka dalam landasan teori harus dapat digambarkan secara jelas bagaimana hubungan dua variabel tersebut.

6. Perumusan Hipotesis

Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara  teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesa merupakan kristalisasi dari kesimpulan teoritik yang diperoleh dari telaah pustaka. Secara statistik hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang  akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.

7. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Konsep merupakan definisi dari sekelompok fakta atau gejala (yang akan diteliti). Konsep ada yang sederhana dan dapat dilihat seperti konsep meja, kursi dan sebagainya dan ada konsep yang abstrak dan tak dapat dilihat seeprti konsep partisipasi, peranan dan sebagainya. Konsep yang tak dapat dilihat disebut construct. Karena construct bergerak di alam abstrak maka perlu diubah dalam bentuk yang dapat diukur secara empiris, atau dalam kata lain perlu ada definisi operasional.

Definisi operasional adalah mengubah konsep dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku atau gejala yang dapat diamati dan dapat diuji kebenarannya oleh orang lain.

Konsep yang mempunyai variasi nilai disebut variabel. Variabel dibagi menjadi dua:

  1. Variabel deskrit/katagorikal misalnya : variabel jenis kelamin.
  2. Variabel  Continues misal : variabel umur

Proses pengukuran variabel merupakan rangkaian dari empat aktivitas pokok yaitu:

  1. Menentukan dimensi variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian sosial sering kali memiliki lebih dari satudimensi. Semakin lengkap dimensi suatu variabel yang dapat diukur, semakin baik ukuran yang dihasilkan.
  2. Merumuskan dimensi variabel. Setelah dimensi-dimensi suatu variabel dapat ditentukan, barulah dirumuskan ukuran untuk masing-masing dimensi. Ukuran ini biasanya berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan dimensi tadi.
  3. Menentukan tingkat ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran. Apakah skala: nominal, ordinal, interval, atau ratio.
  4. Menguji tingkat validitas dan reliabilitas dari alat pengukur apabila yang dipakai adalah alat ukur yang baru.

Contoh yang bagus proses pengukuran suatu variabel dikemukakan oleh Glock dan Stark (dalam Ancok:1989) yang mengembangkan  suatu konsep untuk mengukur tingkat religiusitas. Menurut pendapat mereka konsep religiusitas mempunyai lima dimensi sebagai berikut :

  1. Ritual Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di dalam agama mereka. Seperti sholat, puasa, membayar zakat, dan lain-lain, bagi yang beragama Islam. atau pergi ke gereja dan kegiatan ritual lainnya bagi yang beragama Kristen.
  2. Ideologi Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang dogmatik di dalam agama mereka masing-masing. Misalkan apakah seseorang yang beragama percaya tentang adanya malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan lain-lain hal yang sifatnya dogmatik.
  3. Intellectual Involvement, sebenarnya jauh seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Seberapa jauh aktivitasnya di dalam menambah pengetahuan agamanya, apakah dia mengikuti pengajian, membaca buku-buku agama, bagi yang beragama Islam. bagi yang beragama Kristen apakah dia menghadiri Sekolah Minggu, membaca buku-buku agama, dan lain-lain. Demikian pula dengan orang pemeluk agama lainnya, apakah dia mengerjakan hal-hal yang serupa.
  4. Experiential Involvement, yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misalnya, apakah seseorang pernah merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan; apakah di apernah merasakan bahwa jiwanya selamat dari bahaya karena pertolongan Tuhan, dan lain-lain.
  5. Consequential Involvement, yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku seseorang dimotifikasikan oleh ajaran agamanya. Misalkan apakah dia menerapkan ajaran agamanya di dalam kehidupan sosial. misalnya, apakah dia pergi mengunjungi tetangganya yang sakit, mendermakan sebagian kekayaannya untuk kepentingan fakir miskin. Menyumbangkan uangnya untuk pendirian rumah yatim piatu, dan lain-lain.

Dimensi-dimensi yang disebut  di atas kemudian diperinci dalam aspek yang lebih kecil dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijadikan komponen alat pengukur yang terhadap dimensi tingkat religiusitas.

8.  Validitas dan Reliabiltas Instrumen

Pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur variabel yang kita teliti sebelumnya harus dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Bila  instrumen/alat ukur tersebut tidak valid maupun reliabel, maka tidak akan diperoleh hasil penelitian yang baik.

Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat  pengukur betul-betul mengukur apa yang akan diukur.

Ada beberapa jenis validitas, namun yang paling banyak dibahas adalah validitas konstruk.  Konstruk atau kerangka konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk menggabarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok  atau individu yang menjadi pusat perhatian penelitian. Konsep itu kemudian  seringkali masih harus diubah menjadi definisi yang operasional, yang menggambarkan bagaimana mengukur suatu gejala. Langkah selanjutnya adalah menyusun pertanyaan-pertanyaan/ pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan definisi itu.

Untuk mencari definisi konsep tersebut dapat ditempuh dengan berbagai cara sebagai berikut :

  1. Mencari definisi konsep yang dikemukakan para ahli. Untuk ini perlu dipelajari buku-buku referensi yang relevan.
  2. Kalau dalam literatur tidak dapat diperoleh definisi konsep-konsep penelitian, maka peneliti  harus mendefinisikan sendiri konsep tersebut. Untuk tujuan ini peneliti dapat mendiskusikan dengan ahli-ahli yang kompeten dibidang konsep yang akan diukur.
  3. Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden atau orang-orang yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden (Ancok: 1989). Misalnya peneliti ingin mengukur konsep “religiusitas”. Dalam mendefinisikan konsep ini peneliti dapat langsung menanyakan  kepada beberapa calon responden tetnang ciri-ciri orang yang religius. Berdasar jawaban calon responden, kemudian disusun kerangka suatu konsep. Apabila terdapat konsistensi antra komponen-komponen konstruk yang  satu dengna lainnya, maka konstruk itu memiliki validitas.

Cara yang paling banyak dipakai untuk mengetahui validitas konstruk suatu instrumen/alat pengukur ialah dengan mengkorelasikan skor/nilai yang diperoleh pada masing-masing pertanyaan/pernyataan dari semua responden dengan  skor/nilai total semua pertanyaan/pernyataan dari semua responden. Korelasi antara skor/nilai setiap pertanyaan/pernyataan dan skor/nilai total haruslah signifikan berdasarkan ukuran statistik tertentu misalnya dengan menggunakan teknik korelasi product moment.

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengkur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan kemantapan/konsistensi  hasil pengukuran. Suatu alat pengukur dikatakan mantap  atau konsisten, apabila untuk mengukur sesuatu berulang kali, alat pengukur itu menunjukkan hasil yang sama, dalam kondisi yang sama.

Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang mantap atau konsisten. Pada alat pengukur fenomena fisik seperti berat dan panjang suatu benda, kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran bukanlah sesuatu yang sulit diperoleh. Tetapi untuk pengukuran fenomena sosial, seperti sikap, pendapat, persepsi, kesadaran beragama, pengukuran yang mantap atau konsisten, agak sulit dicapai.

Berhubung gejala sosial tidak semantap fenomena fisik, maka dalam pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran. Dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya, kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. Makin kecil kesalahan pengukuran, semakin reliabel alat pengukurnya. Semakin besar kesalahan pengukuran, semakin tidak reliabel alat pengukur tersebut.

Teknik-teknik untuk menentukan reliabilitas ada tiga yaitu: a. teknik ulangan, b. teknik bentuk pararel dan c. teknik belah dua. Dalam tulisan ini akan dijelaskan satu teknik saja yaitu teknik belah dua.

Teknik belah dua merupakan cara mengukur reliabilitas suatu alat ukur dengan membagi alat ukur menjadi dua kelompok. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  1. Mengajukan instrumen kepada sejumlah responden kemudia dihitung validitas itemnya. Item yang valid dikumpulkan menjadi satu, item yang tidak valid dibuang.
  2. Membagi item yang valid tersebut menjadi dua belahan. Untuk mebelah instrumen menjadi dua, dapat dilakukan dengan salah satu cara berikut: 1). Membagi item dengan cara acak (random). Separo masuk belahan pertama, yang separo lagi masuk belahan kedua; atau (2) membagi item berdasarkan nomor genap-ganjil. Item yang bernomor ganjil dikumpulkan menjadi satu dan yang bernomor genap juga dijadikan satu. Untuk menghitung reliabilitasnya skor total dari kedua belahan itu dikorelasikan.

9. Penetapan Metode Penelitian

Penetapan metode penelitian mencakup : (i) penentuan subyek penelitian (populasi dan sampel), (ii) metode pengumpulan data(penyusunan angket) dan (iii) metode analisis data (pemilihan 9nalisis statistik yang sesuai dengan jenis data)

10. Pembuatan Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian adalah pedoman yang disusun secara sistematis dan logis tentang apa yang akan dilakukan dalam penelitian. Rancangan penelitian memuat: judul, latar belakang masalah, masalah, tujuan, kajian pustaka, hipotesis, definisi operasional, metode penelitian, jadwal pelaksanaan,  organisasi/tenaga pelaksana dan rencana anggaran.

11.  Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data  diperlukan kemampuan melacak peta wilayah, sumber informasi dan keterampilan menggali data. Untuk itu diperlukan pelatihan bagi para tenaga pengumpul data.

12.  Pengolahan, Analisis dan Interpretasi Hasil Penelitian

Pengolahan data meliputi editing, coding, katagorisasi dan tabulasi data.

Analisis data bertujuan menyederhanakan data sehingga mudah dibaca dan ditafsirkan. Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik.

Interpretasi bertujuan menafsirkan hasil analisis secara lebih luas untuk menarik kesimpulan.

13.  Menyusun Laporan Penelitian

Untuk memudahkan menyusun laporan maka diperlukan kerangka laporan out line.

B.   Tahapan Penelitian Kualitatif

Tahapan penelitian kualitatif dapat dikelompokan ke dalam dua jenis yaitu yang mengemukakan berdasarkan langkah fisik (operasional lapangan/ pragmentaris) dan yang ditempuh dan berdasarkan langkah kerja pikir (kerangka pikir/paradigma) penelitian kualitatif. Kelompok yang mengemukakan langkah penelitian dari sisi operasional fisik adalah Bogdan dan Loflan dan Lofland. Sedangkan Creswell, Miles dan Huberman, Mahamit, Moree, Kirk dan Miller mengembangkan berdasarkan paradigma kerangka pikir.

  1. Bodgan (1972) menyajikan tiga tahapan yaitu:
  2. Pra-Iapangan
  3. Lapangan
  4. Analisis intensif;

2.   Kirkdan Miller (1986) menyatakan ada empat tahapan yaitu:

a.    Invensi

  1. Temuan
    1. Penafsiran
    2. Eksplanasi
  1. Loflan dan Lofland (1984) mengajukan sebelas aspek yaitu:
  2. Mulai dari tempat anda berada
  3. Menilai latar penelitian
  4. Masuk lapangan
  5. Bersama lapangan
  6. Meneatat dengan hati-hati (logging data)
  7. Memikirkan tentang satuan
  8. Mengajukan pertanyaan
  9. Menjadi tertarik

i.  Mengembangkan analisis

  1. Menulis laporan
  2. Membimbing bakat
  1. Creswell (1994), menyebutkan bahwa tahapan atau prosedur dalam pendekatan kualitatif meliputi langkah-Iangkah sebagai berikut.
  2. a. The Assumptions Of Qualitative Designs
  3. b. The Type of Design
  4. c. The Researcher’s Role
  5. d. The Data Collection Procedures
  6. e. Data Recording Procedures
  7. f. Data Analysis Procedures
  8. g. Verification Steps
  9. h. The Qualitative Narrative
  1. Miles dan Huberman (Tjetjep Rehendi R, 1992), tahap – tahapan penelitian kualitatif itu meliputi langkah-Iangkah sebagai berikut.
  2. Membangun Kerangka Konseptual
  3. Merumuskan Permasalahan Penelitian
  4. Pemilihan Sampel dan Pembatasan Penelitian
  5. Instrumentasi
  6. Pengumpulan Data
  7. Analisis Data
  8. Matriks dan Pengujian Kesimpulan.
  1. Mahamit (2006) tahapan penelitian kualitatif meliputi;
    1. Menentukan permasalahan
    2. Melakukan studi literature
    3. Studi pendahuluan
    4. Penetapan metode pengumpulan data; observasi, wawancara, dokumen, diskusi terarah
    5. Penetapan lokasi
    6. Analisis data selama penelitian
    7. Analisis data setelah; validasi dan reliabilitas
      1. Hasil; cerita, personal, deskrifsi tebal, naratif, dapat dibantu table frekuensi.

7.       Morce (1994:220) membagi ke dalam tahapan berikut.

  1. a. The Stage of Reflection

1) identifying the topik

2)   identifying paradigmatic perspectives

  1. b. The Stage of Planning

1) selecting a site

2) selecting a strategy

3) methodological triangulation

4) investigator preparation

5) creating and refining the research question

6) writing the proposal

  1. c. The Stage of Entry

1) sampling

2)   interview techniques

  1. d. The Stage of Productive Data Collection

1) the audit trail

2) verification

  1. e. The Stage of Withdrawal
  2. f. The Stage of Writing

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, Satori dan Komariah (2009:82) mengelaborasi tahap-tahap penelitian kualitatif sebagai berikut.

Memilih TopikKajian Menentukan topik dengan mengkaji Paradigmadan fenomena empiric
Menetapkan fokus Inquiri
Menentukan unit analisis/kategori,sub unit analisis/sub-kategori
Mengembangkan pertanyaan inquiri
Instrumentasi Menentukan teknik pengumpulan data
Memilih informan dari tiap unit analisis
Menyiapkan instrument pedomanobservasi/ partisipasi/wawancara/studidokumentasi
PelaksanaanPenelitian pengurusan izin
Menemui gate keeper
Observasi partisipasi, wawancara, studidokumen,triangulasi
Mempersiapkan Catatan lapangan, FGD
PengolahanData Reduksi data
Display
Analisis
HasilPenelitian  Kesimpulan, implikasi, rekomendasi

Bagan Langkah – langkah Penelitian Kualitatif

Telaah Paradigma BaruKaji isu – isu Empirik
Tetapkan Topik
Tentukan Fokus
Kembangkan Kategori/sub-kategori(unit analisis/sub-unit analisis)
Kembangkan Instrumen

  • Nara sumber
  • Teknik
Kumpulkan data Lapangan
Pengolahan Data

  • Reduksi
  • Display
  • Analisis
Deskripsi, pembahasan dan kesimpulan
Periksa Keabsahan Data
Laporan Penelitian
Prasurvey
SudiPustaka
Berada di lapangan
1
2
3
4
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Tidak
Tetapkan dan verifikasi lokasi
Ya
Kaji Literatur
Triangulasi
TriangulasiCatat LapanganFGD

Langkah – langkah Dalam Penelitian Kualitatif

1.    Memilih Topik Kajian

Langkah pertama penelitian kualitatif secara formal adalah merancang penelitian. Menurut Moleong (2007:385) rancangan penelitian diartikan sebagai usaha merencanakan dan menentu­kan segala kemungkinan dan perlengkapan yang diperlukan dalam suatu penelitian kualitatif. Kegiatan perencanaan penelitian kualiatif mencakup komponen-komponen penelitian yang diper­lukan walaupun masih bersifat tentatif yang meliputi: fokus penelitian, pengumpulan data, analisis data, perlengkapan penelitian, dan pemeriksaan keabsahan data, penentuan teknik penelitian.

Menurut Lincoln dan Guba dalam Moleong (2007:93) bahwa penentuan masalah bergantung kepada paradigma apakah yang dianut oleh seorang peneliti. Jadi penelitian kualitatif dilakukan bedasarkan persepsi seorang peneliti terhadap adanya masalah karena ia tahu paradigma yang sedang berkembang dan memiliki informasi awal mengenai praktik yang dilakukan di lapangan. Agar selaras dengan prinsip bahwa kualitatif tidak didesain secara pasti di awal kegiatan, maka bahasa yang tepat dalam langkah awal penelitian bukanlah mendesain penelitian yang memiliki interpre­tasi bahwa suatu desain adalah suatu ketetapan rancangan seperti pastinya penelitian kuantitatif dengan indicator yang akan diteliti. Maka langkah awal penelitian kualitatif adalah memilih topik. Dikatakan memilih topik karena peneliti belum yakin akan kepastian menemukan topik ini. Penelitian kualitatif dimulai saat peneliti menemukan topik untuk dijadikan kajian. Kalau peneliti kualitatif belum memiliki topik untuk dijadikan fokus inquiri. Peneliti bisa mulai dengan memikirkan apa yang menarik untuk dipelajari.

Menentukan topik kajian secara empirik dapat berangkat dari permasalahan dalam lingkup peristiwa yang sedang terus berlangsung dan bisa diamati serta diverifikasi secara nyata pada saat berlangsungnya penelitian. Peristiwa-peristiwa yang diamati dalam konteks kegiatan orang-orang/organisasi dapat menjadi inspirasi menemukan topik yang akan dikaji.

2.    Menentukan Fokus Inquiri

Setelah memiliki topik untuk diteliti, peneliti mulai konsen­trasi untuk menentukan fokus penelitian. Misalnya topik yang dipilih adalah kepemimpinan. Kaji secara mendalam paradigma kepemimpinan yang berkembang saat ini dan isu-isu kepemim­pinan yang sedang hangat diperbincangkan orang.

3. Lakukan Survey Pendahuluan

Untuk memastikan bahwa fokus inquiri ini ada lapangannya, peneliti melakukan survey pendahuluan. Lapangan yang dikunjungi adalah sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Oleh karena itu, setelah peneliti menentukan fokus, maka dipilih lokasi penelitian yang digunakan sebagai sumber data, dengan meng­asumsikan bahwa dalam penelitian kualitatif, jumlah (informan) tidak terlalu berpengaruh dari pada konteks. Peneliti dapat menghubungi Praktisi yang dikenal yang dapat merekomendasikan tempat yang tepat atau secara formal dapat menghubungi pihak yang berhubungan langsung dengan lapangan.

Maksud dan tujuan melakukan survey pendahuluan adalah memastikan bahwa topik inquiri ada data lapangannya dan setelah melakukan penjajakan, peneliti dapat mengenal dan menilai feasibilitas lapangan dari sisi keadaan, situasi, latar, dan konteksnya sehingga peneliti dapat mempersiap­kan diri, mental maupun fisik, serta menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.

4.              Kaji Literatur

Dalam kaji literatur, peneliti dapat mengkaji literatur untuk mendapat inspirasi secara teoritik atau konsep dari fokus yang ditelaah untuk menentuan kategori sub kategori atau unit analisi sub unit analisis. Kajian literatur dalam posisi penelitian kualitatif tidak dibuat untuk dijadikan rujukan penelitian akan tetapi dibuat untuk membantu peneliti saat mengumpulkan data sehingga tidak banyak waktu yang terbuang. Pemahaman akan teori menjadi modal tersendiri bagi peneliti, sehingga penelitian tidak terlalu dimulai dari nol namun tidak perlu terlalu dikhawatirkan dapat mempengaruhi objektivitas data yang diperoleh di lapangan, karena penelitian kualitatif kuncinya tetap berada pada data di lapangan, sehingga yang perlu diperhatikan, dipahami dan disadari oleh peneliti ialah jangan terlalu berpegangan teguh pada acuan teori melainkan dibiarkan berkembang pada pengumpulan data.

Pustaka yang penting untuk diperhatikan oleh seorang peneliti berupa; jurnal profesional, undang-undang, kebijakan­kebijakan, peraturan-peraturan, laporan, risalah, dan buku-buku sekolah, dokumen pemerintah, disertasi, dan sumber elektronik, serta hasil penelitian sebelumnya dan teori-teori yang relevan

Dengan permasalahan yang akan diteliti. James H Mc. Millan, Langkah-langkah dalam melakukan tinjauan pustaka adalah sebagai berikut :

  1. Menganalisis pernyataan masalah: Pernyataan masalah terdiri dari konsep atau kategori yang mengindikasikan topik dalam pencarian literatur.
  2. Menemukan dan membaca literatur kedua: Membaca literaur kedua memberikan ringkasan mengenai topik dan membantu peneliti dalam menetapkan masalah dalam istilah yang lebih tepat.
  3. Mememilih indeks yang tepat sebagai pedoman yang berguna atau database: Peneliti menggunakan lebih dari satu indeks atau database tergantung dari tujuan dan ruang lingkup ikhtisar untuk menemukan Iiteratur utama yang paling penting.
  4. Mengubah pernyataan masalah menjadi bahasa pencari:

Konsep atau kategori dikombinasikan dengan pengertian yang ada di dalam kamus atau indeks untuk menemukan literatur yang diinginkan.

  1. Membaca literatur utama : Peneliti menulis secara sing kat analisis terhadap setiap sumber utama dan kutipan bibliografi yang berhubungan dengan masalah
  2. Menata catatan: Penataan catatan atas studi empiris dapat dilakukan dengan cara mengkasifikasikan menurut; kategori, sub kategori, secara historis, menurut hasil yang sama, atau metodologi yang digunakan
  3. Menulis tinjauan: Menulis tinjauan hanya meliputi kutipan terhadap penelitian, teori, dan praktik yang berhubungan dengan pernyataan masalah, seperti; dasar, aplikasi, atau evaluasi penelitian.

5. Kembangkan Kategori Sub Kategori/Unit Analisis Sub Unit Analisis

Untuk mengembangkan kategori sub kategori. Pengembangan ini sesuai dengan struktur yang dibangun atas bantuan pemahaman teoritik  atau konseptual hasil kajian literatur untuk menjadi wadah dihimpunnya data lapangan. Memahami kategori atau unit analisis adalah mengetahui bagian-bagian atau aspek-aspek apa yang akan diungkap, siapa yang dapat mengungkapkannya secara tepat dan dengan cara apa mengungkapkannya. Dengan menentu­kan kategori dan sub kategori, memudahkan peneliti dalam menentukan batas-batas yang harus dieksplorasi di lapangan dan penelitian akan lebih terfokus.

6. Kembangkan Instrumen

Instrumen penelitian kualitatif adalah “human instrument” atau manusia sebagai informan maupun yang mencari data dan Instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri sebagai ujung tombak pengumpul data (instrumen). Peneliti terjun secara langsung ke lapangan untuk mengumpulkan sejumlah informasi yang dibutuhkan dengan terlebih dahulu sudah memiliki beberapa pedoman yang akan dijadikan alat Bantu mengumpulkan data. Pedoman tersebut dikembangkan dari kategorijsub kategori yang akan dicari data lapangannya dengan menggunakan teknik yang tepat. Teknik yang digunakan dapat berupa kegiatan obervasi, partisipasi, studi dokumen, wawancara.

a.     Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan melaku­kan pengamatan langsung terhadap subjek (partner penelitian) di mana sehari-hari mereka berada dan biasa melakukan aktivitas­nya. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi ujung tombak kegiatan observasi yang dilaksanakan, seperti pemanfaatan tape recorder dan handy camera.

b.    Partisipasi

Berpartisipasi sesungguhnya merupakan teknik observasi, namun ditegaskan pada partisipasi adalah keterlibatan langsung.

c.     Wawancara

Wawancara yang dilakukan adalah untuk memperoleh makna yang rasional, maka observasi perlu dikuatkan dengan wawancara. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan melaku­kan dialog langsung dengan sumber data, dan dilakukan secara tak berstruktur, di mana responden mendapatkan kebebasan dan kesempatan untuk mengeluarkan pikiran, pandangan, dan perasa­an secara natural. Dalam proses wawancara ini didokumentasikan dalam bentuk catatan tertulis dan Audio Visual, hal ini dilakukan untuk meningkatkan kebernilaian dari data yang diperoleh.

d.    Studi Dokumentasi

Selain sumber manusia (human resources) melalui observasi dan wawancara sumber lainnya sebagai pendukung yaitu dokumen-dokumen tertulis yang resmi ataupun tidak resmi.

1.    Kumpulkan Data

a.    Masuk Lapangan

Untuk perolehan data yang diinginkan peneliti hendaknya harus mempersiapkan diri baik secara fisik, psikologis maupun mental. Secara fisik peneliti mempersiapkan diri dari sisi kelengkapan penelitian mulai dari perizinan sampai kelengkapan alat-alat bantu seperti alat tulis, radio tape, handycam, notebook/ netbook.

b.         Berada di Lapangan

Dalam kegiatan mengumpulkan data merupakan kegiatan utama dalam penelitian kualitatif. Kegiatan Pengumpulan data ini pada dasarnya adalah aktifitas terjun ke lapangan. Dalam mengumpul­kan data Peneliti akan berhubungan dengan orang-orang, baik secara perorangan maupun secara kelompok atau masyarakat, akan bergaul, hidup, dan merasakan serta menghayati bersama tatacara dan tatahidup dalam suatu latar penelitian. Persoalan etika akan muncul apabila peneliti tidak menghormati, mematuhi dan mengindahkan nilai-nilai masyarakat dan pribadi yang ada. Oleh karena itu, untuk dapat sukses berada di lapangan, peneliti selain memahami teknik penelitian juga memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan Iingkungan yang dilandasi oleh sikap dan perilakunya yang baik dan menyenangkan.

Kirk dan Miller dalam Moleong (2007: 131) merumuskan hal­ – hal yang perlu diperhatikan saat peneliti berada di lapangan, yaitu:

1)    pemahaman atas petunjuk dan cara hidup

Berupaya            memahami sistem        kebudayaan dengan mengadakan kontak pada masyarakat, khususnya para tokoh berpengaruh yang dapat berperan sebagai perantara dalam memahami cara hidup masyarakat setempat atau lokasi penelitian

2)    memahami pandangan hidup

Pada saat peneliti berbaur dengan masyarakat tempat penelitian, maka peneliti akan berhadapan dengan pandangan hidup masyarakat. Oleh karena itu, peneliti sebaiknya menggali pandangan hidup tersebut, bukan mengomentari, mengkritik, atau berusaha memaksakan pandangan hidupnya.

3)    penyesuaian diri dengan keadaan lingkungan tempat penelitian

Dalam melaksanakan penelitian secara langsung di dalam masyarakat di lapangan penelitian, peneliti hendaknya jangan menonjolkan diri. Peneliti harus mampu membina hubungan baik sehingga tidak terjadi rintangan dan tantangan yang muncul dari, ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan Iingkungan. Untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan hal yang pertama dilakukan adalah menata penam­pilan dan menyesuaikannya dengan kebiasaan, adat, tata cara, dan budaya latar penelitian.

c.         Memilih dan Memanfaatkan Informan

Informan adalah orang-dalam pada latar penelitian. Dimana fungsi­nya adalah untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Seorang informan harus mempunyai banyak peng­alaman tentang latar penelitian dan menjadi anggota tim peneliti­an walaupun hanya bersifat informal. Sebagai anggota tim ia dapat memberikan pandangan dari segi orang-dalam tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses, dan kebudayaan yang menjadi latar penelitian tersebut.

Bagi peneliti, informan adalah orang yang membantu agar dapat menyatu dengan masyarakat setempat, terutama bagi peneliti yang belum begitu mengenal tentang sistem kehidupan, adat-istiadat dan kebudayaan setempat. Di samping itu manfaat informan bagi peneliti ialah agar dalam waktu yang relatif singkat banyak informasi yang terjaring, jadi sebagai sampling internal, karena informan dimanfaatkan untuk berbicara, bertukar pikiran, atau membandingkan suatu kejadian yang ditemukan dari subjek lainnya. Untuk menemukan informan dapat dilakukan melalui : (1) keterangan orang yang berwewenang baik secara formal (peme­rintah) maupun secara informal (tokoh masyarakat, pemimpin adat, dan lain-lain). (2) wawancara pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti. Dengan wawancara pendahuluan peneliti menilai berdasarkan persyaratan yang dikemukakan di atas.

d.      Triangulasi

Tujuan berada di lapangan adalah untuk mengeksplorasi datajinformasi, sehingga diperlukan kaidah-kaidah untuk men­dapatkan informasi yang banyak dan akurat. Di samping itu, informasi yang diperoleh harus memenuhi syarat objektivitas sehingga peneliti harus melakukan triangulasi dalam mendapat/ menggali informasi. Triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Praktik triangulasi tergambar dari kegiatan peneliti yang bertanya pada informan A dan mengklarifikasinya dengan informan B serta mengeksplorasinya pad a informan C. Misalnya, wawancara dengan guru A tentang tipe kepemimpinan Kepala Sekolah, dikonfirmasi kepada kepala sekolah atau ke guru lain lalu ke guru lainnya lagi atau ke tata usaha, siswa, ke masyarakat sehingga diperoleh data yang relative sama atau tidak ada lagi data atau informasi baru yang diperoleh.

e.         Mencatat Data/lnformasi Lapangan

Saat berada di lapangan, peneliti mencari data dengan menggunakan berbagai teknik sesuai tujuan dan jenis data yang diungkap. Teknik yang digunakan berupa wawancara, partisipasi aktif, observasi, studi dokumen. Selama melaksanakan teknik tersebut, peneliti harus membuat catatan agar informasi tidak terlupakan dan terabaikan untuk direkam. Isi catatan lapangan ini menjadi bahan utama peneliti menganalisis lapangan. Biasanya catatan lapangan itu dibuat dalam bentuk kata-kata kunci, singkatan, simbol yang dipahami peneliti, pokok-pokok utama saja, kemudian dilengkapi dan disempurnakan segera setelah selesai satu sesi melaksanakan teknik pengumpulan data.

Peneliti sebaiknya mempunyai buku catatan khusus untuk mencatat dan menanyakan makna tertentu dari yang didengarnya apabila tidak mengerti atau untuk menghindari ketidaklengkapan penjelasan karena peneliti sifat lupa yang dimiliki peneliti. Peneliti juga dapat mencatat kata-kata yang tidak dimengerti tetapi pengertiannya terdapat dalam kamus. Apabila subjek tidak ber­keberatan, peneliti dapat menggunakan Alat perekam seperti tape recorder dan video tape recorder untuk merekam wawancara sehingga terhindar dari terlewatnya data karena sifat lupa peneliti.

Pada dasarnya peneliti tidak dapat melakukan dua pekerjaan sekaligus. Beberapa petunjuk tentang cara mengingat data seperti yang dikemukakan oleh Bogdan (1972:41-42) sebagai berikut:

1)        buatlah catatan secepatnya, jangan menunda-nunda peker­jaan.

2)        jangan berbicara dengan orang lain terlebih dahulu tentang hasil pengamatan sebelum peneliti menuangkan ke dalam catatan lapangan.

3)        usahakan agar tidak terjadi gangguan sewaktu peneliti me­nulis, mengetik atau mendengarkan serta menyalin hasil rekaman dari perekam kaset.

4)        usahakan untuk menggambar dalam diagram keadaan fisik yang diamati atau struktur organisasi yang ditemui, tuliskan secara urut peristiwa langkah demi langkah sesuai dengan apa yang terjadi sewaktu diamati.

5)        buatlah garis besar yang berisi judul-judul tentang sesuatu yang ditemui dalam pengamatan atau wawancara yang cukup lama dilakukan.

6)        dalam jadwal yang disusun hendaknya disisakan banyak waktu sesudah pengamatan atau wawancara yang dipergunakan untuk menulis catatan lapangan.

7)        mencatat apa yang dikatakan oleh subjek secara verbatim hendaknya dilakukan secara teliti, namun jika ada yang terlupa, hal itu jangan terlalu dipusingkan. atasi hal itu dengan jalan menuliskan.

8)        sering apa yang dilakukan atau yang diamati terlupakan sesudah beberapa hari berlalu. jika teringat segera catat lagi untuk kemudian dimasukkan kembali ke dalam catatan lapangan. oleh karena itu, pada setiap saat serta di manapun berada hendaknya senantiasa membawa catatan.

Oleh karena itu, pada setiap saat serta di mana pun berada hendaknya senantiasa membawa senjata, yaitu buku catatan. Membuat catatan lapangan menjadi indicator peneliti yang telitijcermat dengan langkah penelitian dan substansi yang ada di dalamnya.

f. Focus Group Discussion

Perolehan data lapangan yang akurat, tidak salah menulis, tidak salah redaksi tidak salah memaknai, peneliti dapat melaku­kan fokus group discussion dengan mengundang para informan kunci untuk mendiskusikan beberapa konsep yang berkaitan dengan data yang diungkap atau dapat juga menjawab beberapa pertanyaan penelitian. Pada kegiatan ini dimungkinkan adanya reduksi informasi, pengembangan informasi ataupun klarifikasi langkah kerja.

2     Pengolahan Data

a.    Reduksi Data

Operasionalisasi reduksi data dapat ditelusuri dengan mem­perlakukan data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data yang terperinci. Laporan yang disusun berdasarkan data yang diperoleh direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting. Data hasil mengihtisarkan dan memilah-milah berdasarkan satuan konsep, tema, dan kategori tertentu akan memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan juga mempermudah peneliti untuk mencari kembali data sebagai tambahan atas data sebelumnya yang diperoleh jika diperlukan.

b.         Display Data

Bagian-bagian data yang memiliki kesamaan dipilah dan diberi label (nama). Operasionalisasi mengkategorikan data dengan cara data yang diperoleh dikategorisasikan menu rut pokok permasalahan dan dibuat dalam bentuk matriks sehingga me­mudahkan peneliti untuk melihat pola-pola hubungan satu data dengan data lainnya. Setiap kategori yang ada dicari kaitannya kemudian diberi label (nama)

c.         Analisis Data

Analisis Data adalah suatu fase penelitian kualitatif yang sangat penting karena melalui analisis data inilah peneliti dapat memperoleh wujud dari penelitian yang dilakukannya. Analisis adalah suatu upaya mengurai menjadi bagian-bagian (decomposi­tion), sehingga susunanj tatanan bentuk sesuatu yang diurai itu tampak dengan jelas dan karenanya bisa secara lebih terang ditangkap maknanya atau dengan lebih jernih dimengerti duduk erkaranya. Pekerjaan menganalisis adalah suatu aktivitas yang ddak akan sama bentuk dan langkahnya antara satu orang dengan ang lainnya. Namun demikian, apabila merujuk pada arti analisis sebagai suatu upaya mengurai menjadi bagian-bagian (decomposi­ton), maka peneliti dapat memulai analisisnya dari fakta-fakta

3.    Mendeskripsikan dan Membahas Hasil Penelitian

a.    Mendeskripsikan Hasil Penelitian

Mendeskripsikan penelitian kualitatif adalah untuk mencoba menarasikan hasil pengolahan data dengan menyajikan informasi dalam bentuk teks tertulis atau bentuk – bentuk gambar mati atau hidup seperti foto dan video dan lain – lain. Dalam menarasikan data kualitatif ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya : (a) tentukan bentuk yang akan digunakan dalam menarasikan data. (b) hubungkan bagaimana hasil yang berbentuk narasi itu menunjukkan tipe / bentuk keluaran yang sudah di desain sebelumnya, dan (c) menjelaskan bagaimana keluaran yang berupa narasi itu mengkomparasikan antara teori dan literasi – literasi lainnya yang mendukung topik

b.     Membahas hasil penelitian

Dalam pembahasan hasil penelitian. Hasil analisis data kualitatif yang memiliki kandungan epirikal knowledge yang tinggi ditelaah secara keseluruhan maupun bagian – bagiannya dan tiap bagian didiskusikan dengan memberi forsi lebih besar. Dalam membahas hasil penelitian, secara struktur yang Nampak dalam narasi lebih banyak diulas dari persfektif pengetahuan yang dimiliki peneliti yang bersumber pada pengalaman, keahlian/profesi, dan pandangannya akan keyakinan hidupnya.

4.    Kesimpulan

Dalam menyimpulkan data-data yang sudah diproses atau ditrans­fer kedalam bentuk-bentuk yang sesuai dengan pola pemecahan permasalahan yang dilakukan. Kesimpulan dalam penelitian kuali­tatif menjadi saripati jawaban rumusan masalah dan isinya me­rupakan kristalisasi data lapangan yang berharga bagi praktik dan pengembangan ilmu. Kesimpulan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada yang dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal, hipotesis, konsep atau teori.

Pada bagian kesimpulan peneliti hanya merangkumkan pokok-pokok yang menarik saja karena hal-hal yang muncul pada bagian ini secara eksploratif sudah muncul pada bagian isi. Terasa aneh jika peneliti mengambil kesimpulan yang tidak pernah muncul dalam bab sebelumnya. Dari mana asalnya dan jalannya kemana bisa sampai kepada kesimpulan tersebut.

5.    Keabsahan Penelitian

Peningkatan keabsahan hasil penelitian, peneliti dapat mela­kukan cek dan ricek serta croscek pada prosedur penelitian yang sudah ditempuh, serta telaah terhadap substansi penelitian. Keabsahan suatu penelitian kualitatif tergantung pada kepercaya­an akan Kredibilitas, Transferabilitas, Dependabilitas dan Confor­mabilitas.

a.     Kredibilitas (Validitas Internal)

Keabsahan atas hasil-hasil penelitian dilakukan melalui :

1)        meningkatkan kualitas keterlibatan peneliti dalam kegiatan di lapangan;

2)        pengamatan secara terus menerus;

3)        trianggulasi, baik metode, dan sumber untuk mencek kebenaran data dengan membandingkannya dengan data yang diperoleh sumber lain, dilakukan, untuk mempertajam tilikan kita terhadap hubungan sejumlah data; pelibatan teman sejawat untuk berdiskusi, memberikan masukan dan kritik dalam proses penelitian;

5)        menggunakan bahan referensi untuk meningkatkan nilai kepercayaan akan kebenaran data yang diperoleh, dalam bentuk rekaman, tulisan, copy-an, dll;

6)        membercheck, pengecekan terhadap hasil-hasil yang diperoleh guna perbaikan dan tambahan dengan kemungkinan kekeliruan atau kesalahan dalam memberikan data yang dibutuhkan peneliti.

b.    Transferabilitas

Sahwa hasil penelitian yang didapatkan dapat diaplikasi­kan oleh pemakai penelitian, penelitian ini memperoleh tingkat yang tinggi bila para pembaca laporan memperoleh gambaran dan pemahaman yang jelas tentang konteks dan Docus penelitian.

c.         Dependabilitas dan Conformabilitas

Dilakukan dengan audit trail berupa komunikasi dengan pembimbing dan dengan pakar lain dalam bidangnya guna membicarakan permasalahan-permasalahan yang dihadapi da­lam penelitian berkaitan dengan data yang harus dikumpulkan.

6.    Laporan hasil penelitian

Dalam penulisan laporan perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut: (a) kepada siapa laporan diserahkan dan (b) siapa pengguna laporan. Kalau penelitian merupakan bagian dari proyek maka laporannya harus sesuai dengan format yang ditetapkan pemberi proyek. Isi laporan minimal akan mengungkap hasil yang tertulis dalam laporan, sesuai tujuan penelitian atau pengkajian atau mungkin hal lain yang tidak diperkirakan sebe­lumnya. Secara teknis penulisan laporan untuk saat ini sudah sangat praktis karena perkembangan teknologi komputer mem­permudah orang dalam menulis dengan adanya (word processor).

Lincoln dan Guba (1985: 365-366) menyebutkan ada enam petunjuk yang dapat diikuti di dalam penulisan laporan, yaitu:

a.         Penulisan dilakukan secara informal

Tugas seorang peneliti kualitatif harus memberikan gambaran tentang lapangan penelitian apa adanya dan menu rut sudut pandang respond en (emic). Dengan gaya penulisan informal ini diharapkan penulis dapat menyajikan gambaran yang nyata dan jelas tentang lapangan penelitian.

b.         Penulisan tidak bersifat penafsiran

Penulis harus benar-benar menuliskan berdasarkan data yang diperoleh dan bukan merupakan kesimpulan ataupun evaluasi penulis sendiri. Jika memang kesimpulan atau evaluasi itu harus dikemukakan oleh penulis maka dituliskan kalimat yang diberi tanda khusus.

  1. Penulis menyadari jangan sampai terlalu banyak data yang dimasukkan

Penulis hendaknya dapat memilah data yang benar-benar harus dimasukkan ke dalam tulisan dan data yang hanya bersifat tambahan yang tidak berpengaruh terhadap penelitian, sehingga laporan yang dibuat tidak terlalu luas dan tidak membingungkan pembaca.

d.    Penulis hendaknya tetap menjaga kerahasiaan

Bila sumber informasi berkeberatan untuk menyebutkan identitasnya maka penulis harus menjaga kerahasiaannya dengan cara menggunakan nama samaran.

e.     Penulis hendaknya tetap melaksanakan penjajakan audit.

Auditing bertujuan untuk memeriksa keabsahan data yang diperoleh sehingga laporan yang ditulis benar-benar menggam­barkan penelitian yang dilakukan.

  1. Penulis hendaknya menetapkan batas waktu penyelesaian laporan.

Batas waktu perlu untuk ditetapkan supaya penyelesaian laporan dapat dilakukan sebelum terjadinya perubahan pada lapangan penelitian yang mungkin akan terjadi.

BAB IV

ANALISIS MASALAH

Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Per­bedaan antara metode kualitatif dengan kuantitatif meliputi tiga hal, yaitu perbedaan tentang aksioma, proses penelitian, dan karakteristik penelitian itu sendiri.

1. Perbedaan Aksioma

Aksioma adalah pandangan dasar. Aksioma penelitian kuantitatif dan kualitatif meliputi aksioma tentang realitas, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variabel, kemungkinan generalisasi, dan peranan nilai. Perbedaan aksioma antara penelitian kualitatif dan kuantitatif diantaranya :

a.     Sifat Realitas

Dalam memandang realitas, gejala, atau obyek yang diteliti, terdapat perbedaan antara metode kualitatif dan kuantitatif. Seperti telah dikemukakan, dalam metode kuantitatif yang berlandaskan padafilsafat positivisme, realitas dipandang sebagai sesuatu yang kongkrit, dapat diamati dengan panca indera, dapat dikategorikan menurut jenis, bentuk, wama, dan perilaku, tidak berubah, dapat diukur dan diverivikasi. Dengan demikian dalam penelitian kuantitatif, peneliti dapat menentukan hanya beberapa variabel saja dari obyek yang diteliti, dan kemudian dapat membuat instrumen untuk mengukumya.

Dalam penelitian kualitatif yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme atau paradigma interpretive, suatu realitas atau obyek tidak dapat dilihat secara parsial dan dipecah ke dalam beberapa variabel. Penelitian kualitatif memandang obyek sebagai sesuatu yang dinamis, hasil konstruksi pemikiran dan interprestasi terhadap gejala yang diamati, serta utuh (holistic) karena setiap aspek dari obyek itu mempunyai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat meneliti performance suatu mobil, peneliti kuantitatif dapat meneliti mesinnya saja, atau bodynya saja, tetapi peneliti kualitatif akan meneliti semua komponen dan hubungan satu dengan yang lain, serta kinerja pada saat mobil dijalankan.

Realitas dalam penelitian kualitatif tidak hanya yang tampak (teramati), tetapi sampai dibalik yang tampak tersebut. Misalnya melihat ada orang yang sedang mancing, penelitian kuantitatif akan menganggap bahwa mancing itu merupakan kegiatan mencari ikan, sedangkan dalam penelitian kualitatif akan melihat yang lebih dalam mengapa ia mancing. Ia mancing mungkin untuk menghilangkan stress, daripada nganggur, atau mencari teman. Jadi realitas itu merupakan konstruksi atau interprestasi dari pemahaman terhadap semua data yang tampak di lapangan.

b.    Hubungan Peneliti dengan yang diteliti

Dalam penelitian kuantitatif, kebenaran itu di luar dirinya, sehingga hubungan antara peneliti dengan yang diteliti hams dijaga jaraknya  sehingga bersifat independen. Dengan menggunakan kuesioner sebagai teknik pengumpulan data, maka peneliti kuantitatif hampir tidak mengenal siapa yang diteliti atau responden yang memberikan data. Dalam penelitian kualitatif peneliti sebagai human instrument dan dengan teknik pengumpulan data participant observation (observasi berperan serta) dan in depth interview (wawancara mendalam), maka peneliti harus berinteraksi dengan sumber data. Dengan demikian peneliti kualitatif harus mengenal betul orang yang memberikan data.

  1. Hubungan antar Varia bel

Peneliti kuantitatif dalam melihat hubungan variabel terhadap obyek _ ang diteliti lebih bersifat sebab dan akibat (kausal), sehingga dalam ~cnelitiannya ada variabel independen dan dependen. Dari variabel :ersebut selanjutnya dieari seberapa besar pengaruh variabel dependen terhadap variabel dependen.

Dalam penelitian kualitatif yang bersifat holistik dan lebih menekankan pada proses, maka penelitian kualitatif dalam melihat hubungan antar variabel pad a obyek yang diteliti lebih bersifat interaktif yaitu saling mempengaruhi (reciprocal/interaktif), sehingga tidak diketahui mana variabel independen dan dependennya.

d.    Kemungkinan generalisasi

Pada umumnya penelitian kuantitatif lebih menekankan pada keluasan­informasi, (bukan kedalaman) sehingga metode ini coeok digunakan untuk populasi yang luas dengan variabel yang terbatas. Selanjutnya data yang diteliti adalah data sampel yang diambil dari populasi tersebut dengan teknik probability sampling (random). Berdasarkan data dari sampel tersebut, selanjutnya peneliti membuat generalisasi (kesimpulan sampel diberlakukan ke populasi di mana sampel tersebut diambil)

Penelitian kualitatif tidak melakukan generalisasi tetapi lebih menekankan kedalaman informasi sehingga sampai pada tingkat makna. Seperti telah dikemukakan, makna adalah data dibalik yang tampak. Walaupun penelitian kualitatif tidak membuat generaliasi tidak berarti hasil penelitian kualitatif tidak dapat diterapkan di tempat lain. Generalisasi dalam penelitian kualitatif disebut dengan transferability dalam bahasa Indonesia dinamakan keteralihan. Maksudnya adalah bahwa, hasil penelitian kualitatif dapat ditransferkan atau diterapkan di tempat lain, manakala kondisi tempat lain tersebut tidak jauh berbeda dengan tempat penelitian. Lihat gambar

Reduksi

Generalisasi.

Hasil penelitian sam pel dapat diberlakukan ke populasi

transferbility

Generalisasi model penelitian kualitatif. Hasil penelitian dapat ditransferkan pada tempat lain yang konteksnya tidak jauh berbeda dengan tempat penelitian

e.     Peranan Nilai

Peneliti kualitatif dalam melakukan pengumpulan data terjadi interaksi antara peneliti data dengan sumber data. Dalam interaksi ini baik peneliti maupun sumber data memiliki latar belakang, pandangan, keyakinan, nilai-nilai, kepentingan dan persepsi berbeda­beda, sehingga dalam pengumpulan data, analisis, dan pembuatan laporan akan terikat oleh nilai-nilai masing-masing. Dalam penelitian ruantitatif, karena peneliti tidak berinteraksi dengan sumber data, maka akan terbebas dari nilai-nilai yang dibawa peneliti dan sumber data. Karena ingin bebas nilai, maka peneliti menjaga jarak dengan sumber data, supaya data yang diperoleh obyektif. Quantitative research belive that research should value free. (Stainback: 2003)

2.    Karakteristik Penelitian

Karakteristik penelitian kualitatif menurut Bogdan and Biklen (1982) adalah seperti berikut.

a.  Qualitative research has the natural setting as the direct source of data and researcher is the key instrument

b. Qualitative research is descriptive. The data collected is in the form of words of pictures rather than number

c. Qualitative research are concerned with process rather than simply with outcomes or products

d. Qualitative research tend to analyze their data inductively

e. “Meaning” is of essential to the qualitative approach

Berdasarkan karakteristik terse but dapat dikemukakan di sini bahwa penelitian kualitatif itu:

  1. Dilakukan pada kondisi yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen), langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci
  2. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka
  3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau outcome
  4. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif
  5. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data dibalik yang teramati)

Erickson dalam Susan Stainback (2003) menyatakan bahwa ciri-ciri penelitian kualitatif adalah sebagai beriku.

  1. Intensive, long term participation infield setting
  2. Careful recording of what happens in the setting by writing field notes and interview notes by collecting other kinds of documentary evidence
  3. Analytic reflection on the documentary records obtained in the field
  4. Reporting the result by means of detailed dess;riptions, direct quotes from interview, and interpretative commentary.

Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa, metode penelitian kualitatif itu dilakukan secara intensif, peneliti ikut berpartisipasi lama di lapangan, mencatat secara hati-hati apa yang terjadi, melakukan analisis reflektif terhadap berbagai dokumen yang ditemukan di lapangan, dan membuat laporan penelitian secara mendetail.

Selanjutnya untuk memahami secara lebih jelas dan rinci tentang metode kualitatif, maka perlu memahami perbedaan antar kedua metode tersebut. Perbedaan antara penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat dilihat dengan cara membandingkan antara kedua metode tersebut. Perbedaan antara metode penelitian kualitatif dan kuantitatif juga dapat dilihat dari proses penelitian. Proses dalam metode penelitian kuantitatif bersifat linier dan kualitatif bersifat sirkuler.

3.    Proses Penelitian Kuantitatif

a.    Proses Penelitian Kuantitatif

Proses penelitian kuantitatif dapat diberikan penjelasan sebagai berikut. Seperti telah diketahui bahwa penelitian itu pada prinsipnya adalah untuk menjawab masalah. Masalah merupakan penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. peyimpangan antara aturan dengan pelaksanaan, teori dengan praktek, perencanaan dengan pelaksanaan dan sebagainya. Penelitian kuantitatif bertolak dari studi pendahuluan dari obyek yang diteliti (preliminary study) untuk mendapatkan yang betul-betul masalah. Masalah tidak dapat diperoleh dari belakang meja, oleh karena itu harus digali melalui studi pendahuluan melalui fakta-fakta empiris. Supaya peneliti dapat menggali masalah dengan baik, maka peneliti menguasai teori melalui membaca berbagai referensi. Selanjutnya supaya masalah dapat dijawab maka dengan baik.

Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis) maka, peneliti dapat membaca referensi teoritis yang relevan dengan masalah dan berfikir. Selain itu penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian (hipotesis) Jadi kalau jawaban terhadap rumusan masalah yang baru didasarkan pada teori dan didukung oleh penelitian yang relevan, tetapi belum ada pembuktian secara empiris (faktual) maka jawaban itu disebut hipotesis.

Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti dapat memilih metode / strategi/pendekatan/desain penelitian yang sesuai. Pertimbangan ideal untuk memilih metode itu adalah tingkat ketelitian data yang diharapkan dan konsisten yang dikehendaki. Sedangkan pertimbangan praktis, adalah tersedianya dana, waktu, dan kemudahan yang lain. Dalam penelitian kuantitatif metode penelitian yang dapat digunakan adalah metode survey, ex post facto, eksperimen, evaluasi, action research, policy research (selain metode naturalistik dan sejarah).

Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti dapat menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang dapat berbentuk test, angket/kuesioner, untuk pedoman wawancara atau observasi. Sebelum instrumen digunakan untuk pengumpulan data, maka instrumen penelitian harus terlebih dulu diuji validitas dan reliabilitasnya.

Pengumpulan data dilakukan pada obyek tertentu baik yang berbentuk populasi maupun sampel. Bila peneliti ingin membuat generalisasi terhadap temuannya, maka sampel yang diambil harus representatif (mewakili).

Setelah data terkumpul, maka selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu. Berdasarkan analisis ini apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima atau apakah penemuan itu sesuai dengan hipotesis yang diajukan atau tidak.

Kesimpulan adalah langkah terakhir dari suatu peri ode penelitian yang berupa jawaban terhadap rumusan masalah. Berdasarkan proses penelitian kuantitatif di atas maka tampak bahwa

Proses penelitian kuantitatif bersifat linier, di mana langkah­langkahnya jelas, mulai dari rumusan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpu\kan data, anahsls data dan membuat kesimpulan daan saran.

b.    Proses Penelitian Kualitatif

Dalam penelitian kualitatif walaupun belum memiliki masalah, atau keinginan yang jelas, tetapi dapat langsung memasuki obyek lapangan. Pada waktu memasuki obyek, peneliti tentu masih merasa asing terhadap obyek tersebut, seperti halnya orang asing yang masih asing terhadap rtunjukkan wayang kulit. Setelah memasuki obyek, peneliti kualitatif akan melihat segala sesuatu yang ada di tempat itu, yang asih bersifat umum. Misalnya dalam pertunjukan wayang pada tahap awal, ia akan melihat penontonnya, panggungnya, gamelannya, penabuhnya (pemain gamelannya), wayangnya, dalangnya, pesindennya (penyanyi) aktivitas penyelenggaranya.

Pada tahap ini disebut tahap orientasi atau deskripsi, dengan grand tour question. Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan. Mereka baru mengenal serba sepintas terhadap informasi yang diperolehnya.

Proses penelitian kualitatif pada tahap ke 2 disebut tahap reduksi/fokus. Pada tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang telah diperoleh pada tahap pertama. Pada proses reduksi ini, peneliti mereduksi data yang ditemukan pada tahap I untuk memfokuskan pada masalah tertentu. Pada tahap reduksi ini peneliti menyortir data dengan cara memilih mana data yang menarik, penting, berguna, dan baru. Data yang dirasa tidak dipakai disingkirkan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka data-data tersebut selanjutnya dikelompok menjadi berbagai kategori yang ditetapkan sebagai fokus penelitian.

Bila dikaitkan dengan melihat contoh pertunjukkan wayang, maka peneliti telah memfokuskan pada masalah tertentu, misalnya masalah wayang dan dalangnya saja.

Proses penelitian kualitatif, pada tahap ke 3, adalah tahap selection. Pada tahap ini peneliti menguraikan fokus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci. Ibaratnya pohon, kalau fokus itu baru pada aspek cabang, maka kalau pada tahap selection peneliti sudah mengurai sampai ranting, daun dan buahnya. Kalau diibaratkan pertunjukkan wayang tadi, kalau fokusnya pada wayangnya, maka peneliti ingin tahu lebih dalam tentang wayang, mulai dari nama wayang dan perannya, bentuk dan ukuran wayang, cara membuat wayang, makna setiap pahatan pada wayang, jenis cat yang digunakan, cara mengecatnya dan sebagainya.

Pada penelitian tahap ke 3 ini, setelah peneliti melakukan analisis yang mendalam terhadap data dan informasi yang diperoleh, maka peneliti dapat menemukan tema dengan cara mengkostruksikan data yang diperoleh menjadi sesuatu bangunan pengetahuan, hipotesis atau ilmu yang baru.

Hasil akhir dari penelitian kualitatif, bukan sekedar menghasilkan data atau informasi yang sulit dicari melalui metode kuantitatif, tetapi juga harus mampu menghasilkan informasi­informasi yang bermakna, bahkan hipotesis atau ilmu baru yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah dan meningkatkan taraf hidup manusia. Dalam gambar ditunjukkan bahwa, data atau informasi yang diperoleh dapat berbentuk informasi yang bersifat deskriptif, komparatif, dan asosiatif. Informasi deskriptif adalah gambaran lengkap tentang keadaan obyek yang diteliti (A B C, X Y Z, S & @) Informasi komparatif adalah gambaran informasi lengkap tentang perbedaan atau persamaan gejala pada obyek yang diteliti (AI : A2); (Xl : X2); (S1 : S2), dan informasi asosiatif adalah gambaran informasi lengkap tentang hubungan antara variabel satu dengan gejala lain (Xl berhubungan interaktif dengan X2 dan Y)

Proses memperoleh data atau informasi padasetiap tahapan (deskripsi, reduksi, seleksi) tersebut dilakukan secara sirkuler, berulang-ulang dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber.. Setelah peneliti memasuki obyek penelitian atau sering disebut sebagai situasi sosial yang terdiri atas, tempat, aktor/pelaku/orang-orang, dan aktivitas), peneliti berfikir apa yang akan ditanyakan (1). Setelah berfikir ehingga menemukan apa yang akan ditanyakan, maka peneliti selanjutnya bertanya pada orang-orang yang dijumpai pada tempat tersebut (2). Setelah pertanyaan diberi jawaban, peneliti akan menganalisis apakah jawaban yang diberikan itu betul atau tidak (3).Kalau jawaban atas pertanyaan dirasa betul, maka dibuatlah kesimpulan(4).

Pada tahap ke lima, peneliti mencandra (5) kembali terhadap kesimpulan yang telah dibuat. Apakah kesimpulan yang telah dibuat itu kredibel atau tidak. Untuk memastikan kesimpulan yang telah dibuat tersebut, maka peneliti masuk lapangan lagi, mengulangi pertanyaan dengan cara dan sumber yang berbeda, tetapi tujuan sarna. Kalau kesimpulan telah diyakini memiliki kredibilitas yang tinggi, maka pengumpulan data dinyatakan selesai.

Berdasarkan gambar 1.8 berikut dapat diberikan penjelasan sebagai berikut. Gambar sebelah kiri adalah proses penelitian kuantitatif yang bersifat deduktif. Metode penelitian kuantitatif berangkat dari tehoretical frame work sesuatu yang bersifat abstrak, difokuskan dengan formal theory, midle range theori, subtantive theory, selanjutnya dirumuskan hipotesis untuk diuji sehingga, menuju ke empirical social reality atau kejadian-kejadian yang konkrit. Selanjutnya gambar yang sebelah kanan adalah proses penelitian kualitatifyang bersifat induktif. Metode penelitian kualitatifberangkat dari pengamatan yang mendetail konkrit pada empirical social reality, sehingga terbangun grounded theory, selanjutnya berkembang menjadi subtantive theory,midle-range theory, formal theory, dan akhimya menjadi tehoretical frame work (also call paradigm or theoritical system)

Pengertian teori formal, midle range theory dansubtantif oleh Neumen (2003) sebagai berikut. “Formal Theory is developed for borad conceptual area in general theory. Subtantive theory is developed for specific area of social concern. Midle range theories can be formal or subtantive” Midle- range theories are slightly more abstract the empirical generalization or specific hypotheses.

Neuman (2003) menggambarkan proses penelitian kuantitatif yang bersifat deduktif dan penelitian kualitatif yang bersifat induktif

BAB V

K E S I M P U L A N

  1. Penelitian Kuantitatif  adalah  adalah definisi, pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka
  2. Penelitian Kualitatif  adalah penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang terpenting dari sifat suatu barang / jasa.
  3. Langkah – Langkah Penelitian Kuantitatif adalah sebagai berikut :
  4. Merumuskan latar belakang masalah
  5. Mengidentifikasi, memilih dan merumuskan masalah
  6. Merumuskan tujuan dan manfaat penelitian
  7. Telaah pustaka
  8. Membentuk kerangka teori
  9. Merumuskan hipotesis
  10. Mendefinisikan variable penelitian
  11. Meneliti validitas dan reabilitas instrument
  12. Menetapkan metode penelitian
  13. Membuat rancangan penelitian
  14. Mengumpulkan data
  15. Mengolah, menganalisa dan menginterpretasi hasil penelitian
  16. Menyusun laporan penelitian
  1. Langkah – langkah Penelitian Kualitatif adalah sebagai berikut  :
  2. Telaah paradigm baru, kaji isu-isu empirik
  3. Tetapkan topik
  4. Tentukan fokus
  5. Studi pustaka
  6. Kembangkan kategori/sub-kategori
  7. Kembangkan instrument
  8. Kumpulkan data lapangan
  9. Triangulasi
  10. Pengolahan data
  11. Deskripsi, Pembahasan dan kesimpulan
  12. Periksa keabsahan data
  13. Laporan penelitian
  1. Perbedaan penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif dapat dilihat pada table di bawah ini  :
No. Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
1. Kejelasan Unsur :Tujuan, pendekatan, subjek, sampel,Sumber data sudah mantap, rinci sejak awal Subjek sampel, sumber data tidak mantapDan rinci, masih fleksibel, timbul dan berkembangnya sambil jalan
2. Langkah penelitian:Segala sesuatu direncanakan sampaimatang ketika persiapan disusun Baru diketahui denagn mantap dan jelas setelah penelitian selesai
3. Hipotesis (Jika memang perlu)

  • Mengajukan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian;
  • Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan— a priori
Tidak menegmukakan hipotesis sebelumnya, tetapi dapat lahir selama penelitian berlangsung— tentatifHasil penelitian terbuka
4. Disain :Dalam disain jelas langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan Disain penelitiannya fleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan sebelumnya;
5. Pengumpulan data :Kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan Kegiatan pengumpulan data selalu harus dilakukan sendiri oleh peneliti.
6. Analisis data :Dilakukan sesudah semua data terkumpul. Dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data

DAFTAR  PUSTAKA
Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta.

Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT Rajagrafindo Persada: Jakarta.

Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. Sage Publications, Inc:  California.

Abdullah Fajar, Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Jurnal Penelitian Agama Nomor: 1 Juni – Agustus 1992. Balai Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga

Ace Suryadi, Teori dan Praktek Perumusan Masalah Dalam Penelitian Sosial Keagamaan, Makalah Tidak Diterbitkan, 2000.

Djamaluddin Ancok, Teknik Penyusunan Skala Pengukuran; PPK UGM, Yogyakarta, 1989.

Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, 1973. 

Harahap, Nasruddin, Penelitian Sosial : Latar Belakang, Proses : Persiapan Pelaksanaannya, dalam Jurnal Penelitian Agama Nomor: 1 Juni – Agustus 1992. Balai Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga

Moh. Nasir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988.

Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta, 1985.

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1992.

Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Logos: Jakarta, 1997.

Sugiyono,  Memahami Penelitian Kualitatif ; Alfabeta, Bandung, 2007

Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif ; Alfabeta, Bandung, 2009

About these ads

One thought on “Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s